Kilas Balik Ulaanbataar, Kota Di Mongolia Yang Paling Berpolusi Pada 2018

AKURAT.CO Polusi di Indonesia mengingatkan pada Ulaanbataar, ibu kota Mongolia yang memiliki cuaca dingin namun pernah mengalami polusi terparah pada 2018 hingga 2021.
Umumnya daerah yang memiliki kualitas udara buruk cenderung terdapat tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Namun di Mongolia, menurut data yang dirilis World Atlas, menjadi negara dengan tingkat kepadatan penduduk terendah.
Ulaanbataar sebagai ibu kotanya menjadi kota terdingin dan paling berpolusi pada 2018.
Baca Juga: Soal Polusi Udara, Publik Diimbau Ikuti Data Pemerintah
Penyebab Ulaanbataar Menjadi Kota Paling Berpolusi
Mongolia merupakan negara dengan wilayah terbesar di dunia, tingkat kepadatan penduduk di Mongolia paling besar terdapat di Ulaanbataar dengan setengah dari populasi Mongolia yang menetap di sana. Sementara, setengahnya lagi biasa hidup nomaden tersebar di seluruh wilayah.
Seiring berjalannya waktu, perubahan lingkungan dan ekonomi di Mongolia semakin berdampak pada orang-orang Mongolia yang hidup nomaden. Dengan adanya perubahan lingkungan dan ekonomi yang terjadi di Mongolia, penduduk yang hidup nomaden menjadi semakin susah untuk bertahan hidup.
Bagi penduduk Mongolia yang lelah melakukan nomaden, mereka memutuskan untuk menetap dipinggiran Ulaanbataar dengan harapan dapat menjalani hidup lebih mudah ketika menghadapi perubahan lingkungan dan ekonomi. Saat ini tempat yang ditinggali oleh mereka disebut sebagai Distrik Ger atau distrik tenda.
Faktanya, para penduduk nomaden di Mongolia yang memilih menetap di Distrik Ger adalah penyebab utama Ulaanbataar menjadi kota paling berpolusi.
Baca Juga: Waspada Polusi Udara Ancam Tumbuh Kembang Anak
Mengapa Hal Itu Bisa Terjadi?
Pada dasarnya pencemaran udara dapat terjadi karena beberapa hal seperti polusi kendaraan bermotor, pembangkit listrik, hingga polusi rumah tangga. Umumnya polusi rumah tangga menyumbang polusi paling rendah jika dibandingkan beberapa penyebab lainnya. Justru di Ulaanbataar polusi rumah tangga menjadi penyebab utama pencemaran udara.
Perlu digarisbawahi, Ulaanbataar merupakan ibu kota paling dingin. Oleh karena itu, masyarakat nomaden yang memutuskan untuk menetap di Distrik Ger sangat sering menghangatkan diri mereka dengan membakar batu bara mentah.
Bukan tanpa alasan, mereka yang memilih menetap di Ditrik Ger tidak memiliki cukup uang untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Tempat tinggal mereka hanya beratapkan tenda, serta jika musim dingin datang mereka hanya mampu membeli batu bara mentah untuk menghangatkan tempat tinggal.
Asap dari batu bara mentah yang mereka bakar menjadi penyebab utama pencemaran polusi yang terjadi di Ulaanbataar. Selain itu seiring berjalannya waktu, para penduduk di distrik ger semakin bertambah dan pencemaran udara yang diakibatkan oleh polusi rumah tangga semakin besar. (Sastra Yudha Muhidin)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T






