Di India, Jumhur Sayangkan Negara Besar Mundur dari Tanggung Jawab Kolektif Pulihkan Lingkungan

AKURAT.CO Menteri Lingkungan Hidup RI, Moh Jumhur Hidayat, menyayangkan adanya negara maju dengan kekuatan ekonomi besar yang memilih mundur dari tanggung jawab kolektif dalam mengatasi polusi dan perubahan iklim.
Hal itu disampaikan Jumhur dalam Pertemuan Menteri Lingkungan Negara-Negara Anggota BRICS di New Delhi, India, Selasa (18/8/2026). Pertemuan tersebut diikuti 10 dari 11 negara anggota BRICS.
Dalam paparannya, Jumhur menilai negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar memiliki tanggung jawab penting dalam upaya global mengatasi persoalan lingkungan.
Terlebih, aktivitas ekonomi negara-negara tersebut masih menyumbang porsi besar terhadap emisi global.
Di sisi lain, Jumhur menilai kehadiran BRICS dalam lanskap global dapat memperluas tata kelola lingkungan hidup dunia agar lebih representatif dan efektif.
Forum tersebut juga memberikan ruang bagi kearifan lokal untuk ikut berkontribusi dalam memitigasi dan mengatasi berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Pertemuan diawali dengan pernyataan Menteri Lingkungan, Kehutanan, dan Perubahan Iklim India Shri Bhupender Yadav, kemudian dilanjutkan dengan pernyataan Menteri Lingkungan Hidup RI Moh Jumhur Hidayat.
Menurut Jumhur, cara manusia mengelola sumber daya alam, membentuk lanskap, mencegah degradasi lingkungan, dan membangun ketahanan pada akhirnya akan menentukan keberlanjutan pembangunan.
Indonesia, kata dia, juga menggarisbawahi pentingnya melindungi keanekaragaman hayati, baik darat maupun laut, sebagai fondasi bagi ekosistem yang sehat, ketahanan iklim, dan pertumbuhan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia, dengan lebih dari 300 ribu spesies yang telah diketahui.
Jumlah tersebut mencakup 9,7 persen tumbuhan berbunga, 14 persen mamalia, dan 18,6 persen burung dunia.
Sementara itu, ekosistem laut Indonesia yang berada di jantung Segitiga Karang menjadi rumah bagi 23 persen hutan mangrove, 16 persen spesies ikan laut global, dan 10 persen spesies karang dunia.
Keanekaragaman hayati tersebut mendukung jasa ekosistem yang penting bagi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta ketahanan jutaan mata pencaharian.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang membentang di lebih dari 17 ribu pulau, dengan lebih dari 60 persen penduduk tinggal di daerah pesisir, Indonesia berada di garis depan perubahan iklim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 5Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 6Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 7Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 8Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara









