Country Garden Di Cina Hadapi Tantangan Utang Kedua Dalam Beberapa Hari

AKURAT.CO Pengembang properti swasta terbesar di Cina, Country Garden (2007.HK) sedang menghadapi tenggat waktu untuk melakukan pembayaran bunga atas dua obligasi dolar Amerika Serikat pada hari ini, Selasa (5/9/2023).
Tenggat waktu itu hanya berselang beberapa hari setelah perusahaan tersebut menghindari kegagalan bayar utang luar negeri mereka dengan kesepakatan perpanjangan pembayaran di menit-menit terakhir.
Sebelumnya, Country Garden berhasil memenangkan persetujuan dari para kreditor dalam negeri untuk memerpanjang obligasi swasta senilai 536 juta dollar AS atau setara dengan Rp8,4 triliun yang memberikan kelegaan pada pasar.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah 23 Poin Usai Tensi Perang Dagang AS-China Memanas
Namun, pada bulan lalu Country Garden mengatakan bahwa mereka belum membayar kupon obligasi senilai 22,5 juta dollar AS atau setara dengan Rp354 miliar yang jatuh tempo pada 6 Agustus.
Hal tersebut lantas memerparah kekhawatiran pasar bahwa pengembang itu sedang terjerumus ke dalam kesulitan likuiditas yang semakin parah.
Kedua pembayaran tersebut memiliki masa tenggang 30 hari, yang berakhir pada hari ini.
Kegagalan yang akan memberikan risiko pada Country Garden
Kegagalan untuk melakukan pembayaran terakhir sebelum masa tenggang berakhir akan memberikan risiko gagal bayar dan permintaan dari para pemegang obligasi dolar lainnya untuk memercepat pembayaran.
Padahal Country Garden belum pernah melewatkan kewajiban pembayaran utang sampai gagal membayar kupon pada dua obligasi dolar tersebut setelah melambatnya permintaan rumah yang merugikan arus kasnya.
Baca Juga: 7 Film China Yang Dilarang Tayang Di Indonesia, Kontroversial Dan Tak Lulus Sensor
Kesulitan ini lalu menyoroti kondisi sektor real estat Cina yang rapuh, menyumbang sekitar seperempat dari ekonomi dan situasi utangnya yang telah mengerikan setidaknya sejak 2021.
Pihak berwenang telah mengambil serangkaian langkah kebijakan dalam beberapa minggu terakhir untuk mendukung sektor ini dan menghidupkan kembali ekonomi yang tersendat-sendat setelah pemulihan pasca-pandemi jatuh dengan cepat.
Langkah-langkah tersebut termasuk menurunkan suku bunga hipotek yang ada dan pinjaman preferensial untuk pembelian rumah pertama di kota-kota besar.
"Dengan permintaan domestik yang lemah dan harga rumah yang menurun di kota-kota kecil di China khususnya, masih ada kekhawatiran tentang kerapuhan sektor real estat," kata Susannah Streeter, Kepala Uang dan Pasar di Hargreaves Lansdown, Inggris.
Susannah Streeter menambahkan bahwa upaya stimulus untuk meningkatkan pinjaman hipotek disambut baik, tetapi belum cukup.
"Paket dukungan yang jauh lebih besar kemungkinan diperlukan untuk memulihkan kepercayaan diri di sektor tersebut dan menempatkan perusahaan-perusahaan properti yang terpapar pada pijakan yang lebih kuat," jelas Susannah.
Hingga saat ini pihak Country Garden tidak segera memberikan komentar apapun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 4Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







