Akurat Logo

Dari Kebun Pangan hingga Biogas, Begini Cara Perempuan di Sekitar PLTS Cirata Disiapkan Hadapi Transisi Energi

Idham Nur Indrajaya | 25 September 2026, 07:22 WIB
Dari Kebun Pangan hingga Biogas, Begini Cara Perempuan di Sekitar PLTS Cirata Disiapkan Hadapi Transisi Energi
(hanya ilustrasi) Transisi energi di sekitar PLTS Cirata melibatkan perempuan lewat kebun pangan, biogas, pelatihan, dan akses peluang ekonomi. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Bayangkan sebuah proyek energi bersih berdiri di suatu wilayah, tetapi masyarakat yang tinggal di sekitarnya hanya menjadi penonton. Listrik memang dihasilkan dari sumber energi terbarukan, tetapi peluang ekonomi dan keterampilan yang lahir dari perubahan tersebut belum tentu ikut dirasakan warga.

Persoalan inilah yang coba dijawab melalui pemberdayaan perempuan di sekitar PLTS Terapung Cirata. Di Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, transisi energi mulai diarahkan bukan hanya sebagai perubahan teknologi, tetapi juga sebagai kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan keterampilan, usaha, hingga peran dalam pengambilan keputusan.

Upaya tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Forum Multipihak bertajuk “Membangun Transisi Energi yang Inklusif dan Responsif Gender di Wilayah PLTS Terapung Cirata” yang digelar pada 23 September 2026 di Aula Janaka, Sekretariat Daerah Kabupaten Purwakarta.

Perempuan di sekitar PLTS Terapung Cirata disiapkan menghadapi transisi energi melalui penguatan kapasitas, pelatihan cerdas iklim, pemanfaatan eceng gondok menjadi silase dan kompos, pengenalan teknologi biogas, penguatan kepemimpinan, serta upaya menghubungkan masyarakat dengan program pemerintah, CSR, pembiayaan, dan peluang ekonomi.

Mengapa Perempuan Perlu Dilibatkan dalam Transisi Energi di Sekitar PLTS Cirata?

Kehadiran PLTS Terapung Cirata membuat pembicaraan mengenai energi terbarukan tidak lagi berhenti pada panel surya dan produksi listrik. Ada masyarakat yang hidup, bekerja, dan membangun penghidupan di wilayah sekitar proyek tersebut.

Karena itu, transisi energi memiliki dimensi yang lebih luas. Perubahan menuju energi yang lebih bersih juga perlu mempertimbangkan siapa yang memperoleh akses terhadap pengetahuan, keterampilan, modal, dan peluang ekonomi yang muncul di sekitarnya.

Program PW4JET (Pro Women for Just Energy Transition) yang dilaksanakan Rumah Energi dengan dukungan Ford Foundation mengambil posisi tersebut. Program ini menyasar empat desa di Kecamatan Maniis, yakni Citamiang, Sinargalih, Tegal Datar, dan Pasir Jambu.

Perempuan Kepala Keluarga (PEKA) menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan perhatian khusus. Posisi tersebut penting karena pemberdayaan perempuan tidak hanya dipahami sebagai kegiatan pelatihan, tetapi sebagai upaya memperkuat kapasitas ekonomi dan partisipasi mereka dalam perubahan di wilayahnya.

Project Manager PW4JET, Gustina, menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup untuk memastikan transisi energi berjalan secara berkeadilan.

“Transisi energi tidak akan tercapai jika kita hanya bicara soal teknologi, tanpa melihat aspek sosial dan ketimpangan gender yang ada di sekitarnya,” ujar Gustina melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Kamis, 24 September 2026.

Menurut dia, PW4JET ingin menempatkan perempuan sebagai aktor utama, bukan penerima manfaat pasif. Perempuan diharapkan memiliki akses, kontrol, dan porsi manfaat yang setara dari pembangunan energi di wilayah mereka.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.