Mendagri: Program Tiga Juta Rumah Dorong Ekonomi Daerah dan Lindungi Rakyat Kecil

AKURAT.CO Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, menegaskan, program tiga juta rumah yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto bukan sekadar program pembangunan fisik, melainkan kebijakan strategis yang menciptakan efek berantai (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.
Menurutnya, program ini akan mendorong inovasi dunia perbankan dalam pembiayaan, sekaligus menggerakkan banyak sektor, mulai dari buruh bangunan, arsitek, desainer, hingga pengembang perumahan.
“Presiden memiliki paradigma ekonomi kerakyatan. Artinya, semua program diarahkan untuk kepentingan rakyat kecil, dengan intervensi pemerintah untuk melindungi mereka,” ujar Mendagri dalam keterangannya, Jumat (17/10/2025).
Tito menambahkan, program tiga juta rumah merupakan bagian dari kebijakan ekonomi kerakyatan Presiden Prabowo, sebagaimana tertuang dalam buku Paradoks Indonesia.
Ia menilai, program ini sejalan dengan berbagai program prioritas nasional lainnya seperti Sekolah Rakyat, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Swasembada Pangan—yang semuanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, yakni sandang, pangan, dan papan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, Kementerian Dalam Negeri telah menerbitkan kebijakan pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta pembebasan retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Baca Juga: Komdigi Dorong Kerja Sama Regional untuk Perkuat Keamanan Siber di Asia Tenggara
Melalui kebijakan ini, masyarakat dapat mengurus perizinan secara mudah di Mal Pelayanan Publik (MPP) yang tersebar di kabupaten/kota.
Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum yang diolah Kemendagri per 15 Oktober 2025, Provinsi Jawa Timur mencatat capaian tinggi dengan 638 penerbitan izin PBG bagi MBR dan pembangunan 10.234 unit rumah. Capaian tersebut menempatkan Jatim di posisi lima besar nasional.
“Kinerja Jawa Timur patut diapresiasi, tapi saya berharap capaian ini bisa terus ditingkatkan,” kata Tito.
Namun demikian, Mendagri juga menyoroti bahwa dari 38 kabupaten/kota di Jatim, masih ada 13 daerah yang belum merealisasikan PBG bagi MBR. Ia mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat proses perizinan tersebut melalui MPP.
Tito juga menyoroti masih adanya tiga daerah di Jawa Timur yang belum memiliki Mal Pelayanan Publik, yaitu Kabupaten Blitar, Kabupaten Ponorogo, dan Kota Madiun.
“Saya minta kepada Ibu Khofifah, tiga daerah ini tolong didorong pembangunan Mal Pelayanan Publiknya. Kalau belum juga, ya nanti ditegur,” ujarnya dengan nada tegas namun bersahabat.
Mendagri menegaskan, keberadaan MPP sangat penting untuk mempermudah layanan publik, termasuk perizinan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dalam program pembangunan tiga juta rumah.
Baca Juga: Lamine Yamal Telat di Pertemuan Tim Sebelum Laga Lawan PSG, Picu Konflik Hansi Flick dan Deco?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








