Gandeng Indra Sjafri hingga Bambang Pamungkas, Allianz Bekali Pemain Muda dengan Mental Profesional

AKURAT.CO Allianz Indonesia menggandeng empat figur sepak bola nasional dalam program Allianz MoveNow Camp – Indonesia Edition 2026 untuk membekali pemain muda dengan keterampilan teknis sekaligus mental profesional. Melalui pelatihan bersama Indra Sjafri, Bambang Pamungkas, Nova Arianto, dan Arkhan Kaka, peserta diperkenalkan pada pentingnya disiplin, konsistensi, kepemimpinan, strategi, dan kerja sama tim dalam perjalanan menjadi pemain sepak bola.
Program yang berlangsung pada 17–18 Oktober 2026 di Lapangan ABC GBK, Senayan, Jakarta, tersebut diikuti 30 remaja berusia 14–16 tahun. Mereka terpilih dari lebih dari 400 pendaftar yang berasal dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Kehadiran empat figur sepak bola itu menjadi salah satu pendekatan Allianz untuk mempertemukan pemain muda dengan beragam perspektif mengenai dunia sepak bola. Materi pelatihan tidak hanya berfokus pada penguasaan bola atau kemampuan mencetak gol, tetapi juga cara peserta berlatih, menerima evaluasi, mengambil keputusan, dan bekerja bersama rekan setim.
Pendekatan tersebut relevan dalam pembinaan pemain usia muda. Bakat dan kemampuan teknis memang dapat membuka peluang, tetapi perkembangan seorang pemain juga dipengaruhi kebiasaan latihan, ketahanan menghadapi tekanan, serta kesediaan memperbaiki kekurangan secara konsisten.
Indra Sjafri Tekankan Disiplin dan Konsistensi Pemain
Salah satu pesan utama yang dibawa dalam Allianz MoveNow Camp 2026 datang dari Indra Sjafri, pelatih sepak bola nasional yang memberikan perspektif mengenai fondasi pengembangan pemain.
Indra menekankan bahwa bakat bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan seorang atlet. Disiplin dalam menjalani latihan, konsistensi, dan keterbukaan terhadap evaluasi menjadi bagian penting dari proses pembentukan pemain.
“Bakat dapat membuka peluang, tetapi disiplin dan konsistensi yang menentukan sejauh mana seorang pemain dapat berkembang. Melalui Allianz MoveNow Camp, peserta belajar bahwa kemajuan dibangun dari kesungguhan menjalani latihan, keberanian menerima evaluasi, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri,” kata Indra Sjafri melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Jumat, 23 Oktober 2026.
Pesan tersebut menempatkan latihan sebagai proses jangka panjang, bukan sekadar rangkaian aktivitas untuk menguasai teknik tertentu. Pemain muda perlu memahami bahwa kesalahan ketika berlatih merupakan bagian dari pembelajaran, selama mereka mampu mengevaluasi tindakan dan memperbaiki kekurangan.
Dalam konteks pembinaan usia 14–16 tahun, pendekatan ini juga membantu peserta memahami bahwa perkembangan setiap pemain tidak selalu berlangsung dengan kecepatan yang sama. Konsistensi menjalani proses menjadi lebih penting daripada hanya membandingkan kemampuan dengan pemain lain.
Pelatihan dalam program ini mencakup penguasaan bola, akurasi umpan, dribel, penyelesaian akhir, penempatan posisi, hingga transisi permainan. Peserta juga dilatih membaca ruang, mengambil keputusan di bawah tekanan, menjaga kebugaran, dan berkoordinasi dengan rekan setim.
Kemampuan teknis tersebut menjadi sarana untuk membiasakan pemain membuat keputusan secara cepat dan terukur. Ketika situasi pertandingan berubah, pemain harus dapat menilai pilihan yang tersedia, memahami perannya, dan menentukan tindakan yang paling sesuai dengan kebutuhan tim.
Bambang Pamungkas Bagikan Perspektif Profesionalisme dan Kepemimpinan
Selain Indra Sjafri, Allianz menghadirkan Bambang Pamungkas, mantan pemain tim nasional Indonesia, untuk memberikan perspektif mengenai profesionalisme, mentalitas, dan kepemimpinan dalam sepak bola.
Kehadiran figur yang pernah menjalani karier sebagai pemain profesional dapat memperluas pemahaman peserta tentang tuntutan yang dihadapi atlet. Sepak bola tidak berhenti pada kemampuan individu menguasai bola. Pemain juga perlu memahami tanggung jawab terhadap tim, menjaga komitmen, dan menempatkan kepentingan bersama sebagai bagian dari permainan.
Bagi pemain muda yang sedang mengembangkan kemampuan, profesionalisme dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: datang tepat waktu, menjalankan instruksi, menjaga kondisi fisik, menghormati rekan setim, dan bersedia menerima masukan dari pelatih.
Kepemimpinan juga tidak selalu berarti menjadi pemain yang paling menonjol atau paling sering berbicara di lapangan. Dalam situasi tertentu, kepemimpinan terlihat dari kemampuan menjaga komunikasi, membantu rekan yang kesulitan, serta tetap bertanggung jawab ketika tim menghadapi tekanan.
Perspektif tersebut penting dikenalkan sejak dini agar pemain tidak hanya mengejar pencapaian individual. Kemampuan membangun hubungan yang sehat dengan rekan setim dan menerima tanggung jawab dapat membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan latihan yang lebih kompetitif.
Meski demikian, dua hari pelatihan tidak cukup untuk membuktikan bahwa peserta telah memiliki mental profesional. Nilai utama kegiatan semacam ini terletak pada kesempatan mengenal prinsip-prinsip tersebut dan mulai menerapkannya dalam kebiasaan sehari-hari. Perkembangan selanjutnya tetap membutuhkan latihan berkelanjutan, pendampingan, dan evaluasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 9KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot
- 10Perusahaan Asing Harus Bertanggung Jawab Atas Karhutla, Prabowo: Kita Cabut Izinnya







