Gembira dan Terlihat, Benarkah Lamine Yamal adalah 'Cerminan' Gen Z dan Alfa?

AKURAT.CO, Fakta bahwa Lamine Yamal hanya menjadi runner-up dalam penghargaan Ballon D’Or 2025 tak mengurangi figurnya sebagai apa yang disebut dengan “simbol generasi”.
Lebih lagi karena usianya yang baru 18 tahun membuat Lamine Yamal sudah digadang-gadang sebagai penanda era baru, tidak hanya dalam sepakbola, tetapi generasinya secara umum.
Kolumnis BBC asal Spanyol, Guillem Balague, menjelaskan dengan cukup gamblang tentang Lamine Yamal sebagai fenomena.
Balague menulis bahwa sukses pemain Barcelona tersebut meraih Piala Kopa (trofi pemain muda terbaik) di gala Ballon D’Or di Theatre Du Chatelet, Paris, Prancis, Senin (22/9), menakdirkannya untuk menciptakan sebuah era.
Baca Juga: Ousmane Dembele Resmi Jadi Pemenang Ballon d'Or 2025, Ungguli Lamine Yamal
“Lamine Yamal, yang memenangi penghargaan pemain muda terbaik di hari Senin (lalu), tidak hanya seorang pesepakbola, dia adalah cermin generasinya,” tulis Balague.
Balague mengulas keberadaan Yamal dalam garis generasi di mana pemain Tim Nasional Spanyol dengan ayah berdarah Maroko dan ibu berdarah Guinea itu ditempatkan dalam kelompok generasinya: Gen Z.
Sebagai perwakilan generasi Z (Gen Z) yang mendahului generasi Alfa, Yamal menunjukkan karakter berbeda dari dua simbol generasi terbesar pendahulunya: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Jika Lionel Messi memiliki karakter rendah hati-menahan diri dan Cristiano Ronaldo dengan disiplin-kerja keras, maka Yamal menggambarkan perilaku bersenang-senang dan merdeka dari sistem.
Baca Juga: Delegasi Barcelona Lupa Makan di Hari Ballon D'Or, Lamine Yamal Traktir Hamburger di Jalan
“Dia sebelumnya telah melakukan deklarasi, ‘saya tidak memimpikan hanya satu Ballon D’Or, saya memimpikan banyak. Jika saya tidak mendapatkannya, itu akan menjadi kegagalan saya’,” tulis Balague mengutip pernyataan Yamal.
“Itu bukan kerendahan hati Messi dan mentalitas ksatria Ronaldo. Itu adalah sesuatu yang lain: sebutlah itu kepemilikan diri, yang takdirnya diasumsikan sebagai tanggung jawab pribadi.
“Itu adalah sebuah filosofi yang beresonansi dengan generasi Z dan Alfa. Mereka adalah orang-orang muda yang dibentuk oleh krisis–kebangkrutan finansial, pandemi, kegelisahan iklim–yang tak percaya dengan institusi. Bagi mereka, sukses bukannya patuh pada sistem tetapi bebas dari itu.
“Pengorbanan bukan lagi kebajikan tertinggi, tetapi kebebasan. Uang tidak lagi tabu, tetapi tidak juga sakral; itu adalah alat untuk menjadi otonom. Gembira dan terlihat bukanlah pengalihan–mereka adalah bagian dari kesuksesan.”
Well, tampaknya penjelasan Guillem Balague cukup heroik dan optimistis terhadap bocah 18 tahun bernama Lamine Yamal. Waktu yang akan membuktikan apakah penilaian ini terlalu berlebihan atau memang sesuai dengan ramalan insan sepakbola yang ingin sepakbola kembali setelah surutnya masa puncak era Ronaldo-Messi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








