Samuel Eto'o, Tuduhan Diktator, dan Perlawanan terhadap Intervensi Pemerintah Kamerun

AKURAT.CO, Memasuki pekan-pekan Kualifikasi Piala Dunia 2026, sepakbola Kamerun berada dalam konflik yang menarik perhatian dunia. Tak lain karena melibatkan eks pemain tim nasional mereka, Samuel Eto’o.
Terpilih sebagai Presiden Federasi Sepakbola Kamerun (Fecafoot) sejak Desember 2021, Samuel Eto’o diketahui sedang terlibat dalam “perang” dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga negaranya yang dikenal dengan singkatan Minsep.
Penyebabnya adalah penunjukan pelatih asal Belgia, Marc Brys, sebagai Pelatih Timnas Kamerun pada April silam. Samuel Eto’o dikabarkan tak setuju dan tak hadir pada hari pengumuman Brys sebagai pelatih.
Baca Juga: Rekaman Percakapan Bocor, Samuel Eto'o Diduga Lakukan Pengaturan Pertandingan
Puncaknya adalah Brys dipecat pada 3 April lalu. Namun, dua hari kemudian, pelatih yang malang-melintang di liga Belgia, Belanda, dan Arab Saudi itu dikembalikan ke jabatannya.
Sebagaimana dikabarkan BBC, konflik terjadi tak lain karena Pemerintah Kamerun punya intervensi yang besar di Fecafoot, termasuk dalam hal menunjuk pelatih tim nasional.
Eto’o dengan reputasinya sebagai eks penyerang Barcelona dan Inter Milan, lebih memilih nama besar seperti Fabio Cannavaro, Herve Rennard yang membawa Zambia dan Pantai Gading menjuarai Piala Afrika, serta eks Pelatih Nigeria, Jose Peserio.
Karena Fecafoot masih dibiayai oleh Pemerintah Kamerun, maka keinginan Eto’o tak bisa berjalan sesuai yang dimauinya. Pada saat yang sama, ada isu bahwa Pemerintah Kamerun merekrut pelatih yang sesuai dengan kemampuan finansial mereka.
“Satu-satunya masalah adalah gaji,” kata jurnalis olahraga Kamerun, Giovanni Wanneh.
Baca Juga: Swiss Kalahkan Kamerun dengan Darah Kamerun
“Brys mungkin bukan yang terbaik, tetapi kita tidak membicarakan seseorang yang kita ambil dari selokan. Minsep telah memainkan kartunya sebelumnya dan itu berhasil di Kamerun.”
Hal lain ada yang menyebutkan bahwa Eto’o menjalankan perannya sebagai Presiden Fecafoot sebagai diktator. Eks pesepakbola berusia 43 tahun itu disebut mengabaikan saran dari sejumlah pihak.
“Samuel adalah pemain terbesar di Afrika tetapi ada banyak persoalan di sekeliling dia,” kata eks pemain Timnas Kamerun yang menolak disebutkan namanya.
“Dia tidak mendengar saran. Ketika Anda mengendalikan orang Anda tidak perlu (bertindak) seperti diktator.”
Kamerun sendiri saat ini berada di posisi kedua klasemen Grup D Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Afrika. Mereka bersiap menghadapi Tanjung Verde pada laga kandang di Yaounde, Sabtu (8/6).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







