Akurat

Kembali ke Istora, Ini Penyebab Batalnya Indonesia Terbuka Debut di Indonesia Arena

Leo Farhan | 3 April 2024, 05:05 WIB
Kembali ke Istora, Ini Penyebab Batalnya Indonesia Terbuka Debut di Indonesia Arena
 
 
AKURAT.CO, Publik Tanah Air akan kembali mendapat sajian spesial turnamen bulutangkis berkelas dunia, Kapal Api Indonesia Terbuka 2024. Ini adalah gelaran Super 1000 yang berhadiah total $1,3 juta atau sebesar Rp20,6 miliar.
 
Setelah sebelumnya dirumorkan bakal menggunakan Indonesia Arena sebagai venue laga, namun panitia penyelenggara menegaskan bahwa mereka akan kembali menggunakan Istora Senayan sebagai venue Indonesia Terbuka 2024 pada 4-9 Juni mendatang.
 
"Pertama-tama ingin memberikan informasi, betapa sangat disayangkan gelaran Indonesia Open 2024 kali ini tidak bisa diselenggarkan di Indonesia Arena," kata Ketua Panpel Indonesia Terbuka 2024, Armand Darmadji, dalam sesi jumpa pers di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (2/4).
 
 
"Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, kami mendapatkan surat dari PPK GBK (Pusat Pengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno) bahwa kami tidak bisa mengadakan acara di tempat tersebut karena struktur (yang dibutuhkan) tidak bisa terpasang di sana.
 
"Jadi kami juga tidak mau memaksakan diri untuk berada di sana (Indonesia Arena) karena berisiko terhadap gedungnya sendiri. Tentu hal itu yang menjadi sumber pertama kita akhirnya mengurungkan niat menggunakan Indonesia Arena."
 
Panitia penyelenggara sebenarnya bukan tanpa usaha untuk bisa menggunakan Indonesia Arena sebagai venue gelaran Super 1000 tersebut. Mereka bahkan bersama pemain dan tim BWF bolak-balik untuk melakukan survei venue.
 
 
Sayang, tim ahli yang dibawa menyatakan bahwa ada struktur bangunan di Indonesia Arena yang tidak memungkinkan untuk digelarnya pertandingan bulutangkis dengan standar BWF di sana.
 
"Kita sempat membawa pemain juga ke sana untuk mencoba lapangan, latihan di sana. Kita coba juga membawa tim ahli untuk struktur, ternyata jawaban dari mereka tidak memungkinkan untuk bisa layak dijadikan tempat lapangan sesuai dengan standar BWF," jelas Armand.
 
Bukan cuma itu, Armand juga menyayangkan bahwa gelaran Indonesia Terbuka kali ini tidak bisa berlangsung di Indonesia Arena. Namun, bukan karena tidak ingin, tetapi lantaran tidak bisa menggunakan venue tersebut.
 
Terlebih, dari empat gelaran Super 1000 dalam seri BWF, hanya Indonesia Terbuka (Istora Senayan delapan ribu tempat duduk) yang venue-nya tidak lebih dari sepuluh ribu tempat duduk.
 
"Indonesia menjadi satu-satunya negara dengan seri Super 1000 yang belum mempunyai stadion berkapasitas lebih dari sepuluh ribu penonton," jelas Armand.
 
"Di tempat lain (China Terbuka, Malaysia Terbuka dan All England) semua gelaran Super 1000 ini sudah di atas 14 ribu penonton."
 
Sebenarnya bukan tidak ada alternatif untuk tetap menggunakan Indonesia Arena sebagai venue Indonesia Terbuka 2024. Namun, jika hal tersebut dipaksakan, malah akan berpotensi menurunkan kelas Indonesia nantinya.
 
"Ada alternatif kedua kalau kita paksakan (tetap di Indonesia Arena) dengan memakai rigging dari bawah. Tapi, itu bentuknya sangat tidak bagus, akan sangat jelek, seperti ada gawang di bawah itu. Nanti takutnya malah menurunkan kelas Indonesia," ucap Armand.
 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L
Reporter
Leo Farhan
H