Akurat Logo

Bukan Sekadar Kompetisi, MR.D.I.Y. Buka Jalan Seniman Indonesia ke Panggung Asia Tenggara

Idham Nur Indrajaya | 7 Oktober 2026, 18:55 WIB
Bukan Sekadar Kompetisi, MR.D.I.Y. Buka Jalan Seniman Indonesia ke Panggung Asia Tenggara
Kompetisi seni MR.D.I.Y. membuka peluang seniman Indonesia tampil di Art Jakarta dan panggung seni Asia Tenggara. - dok. MR.D.I.Y.

AKURAT.CO Menang dalam sebuah kompetisi seni biasanya menjadi titik akhir dari sebuah perlombaan. Namun, bagi para peserta MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026, kemenangan justru dapat menjadi awal perjalanan karya untuk bertemu dengan audiens yang lebih luas.

Kompetisi seni MR.D.I.Y. tahun ini mempertemukan seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Hampir 2.500 peserta ikut berpartisipasi, sementara 18 karya terpilih mewakili ketiga negara di tingkat regional.

Yang menarik, perjalanan karya tidak berhenti setelah pemenang diumumkan. Sejumlah karya kemudian ditampilkan dalam Art Jakarta 2026 dan MR.D.I.Y. Art Exhibition di Lotte Mall Jakarta. Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah kompetisi dapat berfungsi sebagai salah satu pintu eksposur bagi seniman.

Secara sederhana, MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 bukan hanya memberikan penghargaan kepada karya terbaik. Program ini memberikan kesempatan kepada seniman untuk memperkenalkan karya melalui beberapa ruang berbeda, mulai dari kompetisi regional hingga pameran yang dapat diakses publik.

Bagi MR.D.I.Y., kesempatan tersebut merupakan bagian dari tujuan program. Senior Brand and Digital Manager MR.D.I.Y. Indonesia, Andaru Satyapradana atau Dana, mengatakan perusahaan melihat ruang untuk mendorong masyarakat mengekspresikan diri melalui seni.

“Dari art supplies ini, kami melihat ada ruang untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengekspresikan dirinya melalui karya seni,” kata Dana dalam acara pengumuman pemenang MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.

Baca Juga: Dari Seniman Emerging Jadi Established, Begok Oner Raih Penghargaan UOB Painting of the Year 2026

Baca Juga: Toko MR.D.I.Y. Tembus 1.400 Gerai, Ekspansi Makin Agresif Menjangkau Daerah Tier 3

Mengapa MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 Bukan Sekadar Lomba Seni?

Ada perbedaan penting antara kompetisi yang berhenti pada pengumuman pemenang dengan kompetisi yang memberikan ruang bagi karya untuk terus dilihat setelah penjurian.

Dalam MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026, rangkaian program bergerak lebih jauh. Peserta tidak hanya berhadapan dengan juri, tetapi juga mendapatkan kemungkinan untuk memperkenalkan karya kepada publik melalui sejumlah ruang pamer.

Dana menyebut tujuan tersebut sebagai upaya untuk membuka “pintu kesempatan” bagi seniman dari tiga negara.

“Yang menjadi perhatian utama adalah membuka pintu kesempatan bagi teman-teman seniman dan artis di tiga negara,” ujarnya.

Frasa tersebut menjadi penting jika melihat perjalanan karya yang terpilih. Sebelum dipamerkan di ruang MR.D.I.Y., karya-karya peserta juga hadir dalam Art Jakarta 2026. Artinya, kompetisi menjadi bagian dari rangkaian yang mempertemukan karya dengan audiens berbeda.

Dari sudut pandang seniman, kesempatan semacam ini memiliki nilai yang berbeda dengan sekadar status sebagai pemenang. Sebuah karya membutuhkan audiens untuk mendapatkan konteks, interpretasi, dan perhatian yang lebih luas.

Hampir 2.500 Peserta, Hanya 18 Karya Terpilih

Skala kompetisi juga memperlihatkan ketatnya proses seleksi. MR.D.I.Y. mencatat hampir 2.500 peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand pada penyelenggaraan tahun ini.

Dari jumlah tersebut, terdapat 18 karya yang terpilih untuk mewakili ketiga negara di tingkat regional. Jika angka “hampir 2.500” digunakan sebagai pembanding kasar, 18 karya tersebut setara dengan kurang dari 1% dari jumlah peserta. Angka ini bukan tingkat kelulusan resmi, tetapi cukup memberikan gambaran mengenai sempitnya jumlah karya yang mencapai tahap regional.

Proses penilaian dilakukan oleh dewan juri dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Mereka mempertimbangkan kreativitas, kualitas artistik, teknik, serta kekuatan narasi yang disampaikan melalui karya.

Tema yang diangkat tahun ini adalah “Strength & Resilience”. Peserta diberi ruang untuk menerjemahkan makna kekuatan dan ketangguhan berdasarkan pengalaman personal maupun lingkungan di sekitar mereka.

Dua karya dari Indonesia kemudian berhasil memperoleh penghargaan tertinggi. Pada kategori Umum, Grand Prize diraih Veronica Liana melalui karya Rupa Tan Matra #3. Sementara itu, Muhammad Ragib Noer Khasyi meraih Grand Prize kategori Pelajar & Mahasiswa melalui Yang Tersisa Sepulang Kerja (1).

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.