Akurat Logo

Daratan Baru Muncul di Sekitar Gunung Anak Krakatau, Begini Penjelasan dan Proses Terbentuknya

Putri Chandra | 24 September 2026, 19:15 WIB
Daratan Baru Muncul di Sekitar Gunung Anak Krakatau, Begini Penjelasan dan Proses Terbentuknya
Ilustrasi, daratan baru gunung anak krakatau - Magnific

AKURAT.CO Fenomena daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, menjadi perhatian setelah terdeteksi adanya penambahan wilayah daratan sekitar 32,8 hektare.

Daratan tersebut terbentuk akibat penumpukan material vulkanik dari aktivitas erupsi Anak Krakatau pada September 2026.

Lantas, bagaimana proses daratan baru tersebut bisa muncul di tengah laut?

Baca Juga: Hunian Premium Tak Lagi Terpusat di Selatan, Bukit Podomoro Hadirkan Kawasan Harrington di Jaktim


Fenomena Daratan Baru Muncul di Sekitar Gunung Anak Krakatau

Daratan baru terdeteksi di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, pada September 2026. Kemunculan daratan ini bukan berarti ada gunung api baru yang tiba-tiba muncul.

Berdasarkan penjelasan Badan Geologi, daratan tersebut terbentuk akibat penumpukan material vulkanik yang dikeluarkan Anak Krakatau saat erupsi.

Fenomena ini merupakan bagian dari proses alami gunung api dalam membentuk dan memperluas tubuhnya.

Hasil pengamatan menggunakan citra satelit Sentinel menunjukkan adanya penambahan daratan sekitar 32,8 hektare. Area tersebut berada di bagian barat laut hingga barat-barat daya tubuh Anak Krakatau, tepatnya di antara Anak Krakatau dan Pulau Sertung.

Penambahan daratan ini berkaitan dengan aktivitas erupsi yang terjadi pada 4 hingga 6 September 2026. Dalam periode tersebut, Anak Krakatau mengalami erupsi secara terus-menerus selama sekitar 25 jam.

Baca Juga: Gus Alex Klaim USD1 Juta untuk Pansus Haji Mengalir Lewat Zainal Abidin hingga ke Nusron Wahid

Aktivitas erupsi tersebut mengeluarkan material vulkanik dalam jumlah besar yang kemudian menumpuk di sekitar tubuh gunung.


Proses Terbentuk Daratan Baru Anak Krakatau

Proses terbentuknya daratan baru ini sebenarnya cukup sederhana. Material dari dalam gunung keluar saat erupsi, kemudian menumpuk di sekitar gunung hingga sebagian mencapai permukaan laut. Berikut prosesnya:

1. Magma keluar dari dalam gunung

Magma yang berada di bawah permukaan bumi bergerak naik menuju saluran gunung api. Ketika tekanan cukup besar, magma kemudian keluar melalui proses erupsi.

Pada aktivitas Anak Krakatau pada September 2026, erupsi juga menghasilkan aliran lava dan lontaran material. Fenomena keluarnya lava tersebut disebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava.

2. Erupsi mengeluarkan berbagai material

Erupsi tidak hanya menghasilkan lava. Gunung api juga dapat mengeluarkan batuan dan material vulkanik lainnya, termasuk material piroklastik.

Material tersebut kemudian jatuh, mengalir, atau tersebar di sekitar Anak Krakatau.

3. Material masuk dan menumpuk di laut

Anak Krakatau berada di tengah perairan Selat Sunda. Karena itu, sebagian material yang keluar saat erupsi jatuh ke laut dan kemudian mengendap di sekitar gunung. Material tersebut secara bertahap membentuk timbunan di dasar perairan.

4. Tumpukan material semakin tinggi

Jika material vulkanik yang terus keluar lebih banyak dibandingkan material yang terbawa arus dan gelombang, endapan akan semakin tebal dan luas.

Lama-kelamaan, tumpukan material tersebut dapat mendekati permukaan laut hingga akhirnya terlihat sebagai daratan.

5. Muncul tonjolan atau gumuk baru

Pengamatan citra satelit juga menunjukkan adanya gumuk atau tonjolan kecil di sekitar Anak Krakatau, termasuk di bagian barat laut dan tenggara.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.