Kenapa Banyak Gen Z Dipecat? Ternyata Ini yang Dicari Perusahaan

AKURAT.CO Fenomena tingginya pemecatan dan resign karyawan Generasi Z kini menjadi perhatian banyak perusahaan.
Bukan hanya soal kemampuan kerja, perbedaan cara pandang antara Gen Z dan dunia kerja konvensional disebut menjadi pemicu utama sulitnya perusahaan mempertahankan talenta muda.
Baca Juga: Wajib Tahu! 5 Alasan Mengapa Gen Z Memilih Resign dari Perusahaan Anda
Berdasarkan survei Intelligent, sekitar enam dari 10 perusahaan diketahui memecat karyawan Gen Z hanya beberapa bulan setelah mereka mulai bekerja.
Kondisi ini menunjukkan adanya benturan ekspektasi antara perusahaan dan generasi muda di lingkungan kerja modern.
Profesor New York University (NYU), Suzy Welch, menilai masalah tersebut muncul karena perbedaan nilai yang dianggap penting oleh masing-masing pihak.
Lewat riset menggunakan alat bernama The Values Bridge, Welch memetakan prioritas hidup berdasarkan nilai, minat, dan bakat seseorang.
Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z memiliki prioritas yang berbeda dibandingkan kebutuhan perusahaan saat merekrut karyawan. Generasi ini lebih mengutamakan kesehatan mental, kebebasan menjadi diri sendiri, dan keinginan membantu orang lain.
Sementara itu, perusahaan justru mencari pekerja yang memiliki orientasi tinggi terhadap prestasi, fokus pada pekerjaan, dan semangat kompetitif.
“Perusahaan mencari orang yang ingin menang dan fokus bekerja, sedangkan Gen Z lebih memprioritaskan keseimbangan hidup serta individualitas,” jelas Welch, dikutip dari USA Today pada Kamis, (7/5/2026).
Baca Juga: Fenomena Gen Z Cepat Dipecat dari Tempat Kerja, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Menurutnya, banyak Gen Z mulai mempertanyakan pola kerja generasi sebelumnya yang dianggap tidak selalu menjamin kehidupan stabil. Mereka melihat bagaimana orang tua mereka tetap bisa kehilangan pekerjaan meski telah bekerja keras selama bertahun-tahun.
Karena itulah, Gen Z kini lebih memilih menjaga kesehatan mental dan work-life balance dibanding mengejar karier secara agresif hingga mengalami burnout.
Meski sering dianggap tidak cocok dengan budaya kerja lama, Welch menegaskan bahwa nilai-nilai yang dianut Gen Z bukan sesuatu yang salah. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap pilihan tetap memiliki konsekuensi di dunia profesional.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan mengaku kesulitan menemukan kandidat muda yang sesuai dengan standar dan budaya kerja mereka. Hal ini membuat tantangan rekrutmen dan mempertahankan karyawan Gen Z semakin besar di era kerja modern saat ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








