Kesendirian di Era Modern: Antara Keterasingan dan Ruang Pemulihan Diri

AKURAT.CO Di era modern, semakin banyak individu secara sadar memilih untuk menghabiskan waktu dalam kesendirian.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran gaya hidup masyarakat urban, di mana menyendiri di rumah kerap dianggap lebih nyaman dan menenangkan dibanding bersosialisasi di ruang publik yang padat.
Tak lagi asing melihat orang makan sendiri di restoran atau bepergian tanpa teman. Bahkan, data menunjukkan jumlah individu yang hidup sendiri hampir dua kali lipat meningkat dalam lima dekade terakhir.
Di negara maju seperti Amerika Serikat, tren ini bahkan melahirkan istilah “abad antisosial”, menandai masyarakat yang kian terpisah dari interaksi sosial konvensional.
Namun, meski tren ini mencuat, isu kesepian dan keterasingan tetap menjadi perhatian serius. Kesepian kronis telah dikaitkan dengan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan, mulai dari depresi hingga menurunnya usia harapan hidup.
Namun di balik sisi gelap itu, terdapat dimensi positif dari kesendirian yang kini mulai mendapatkan pengakuan.
Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai positive solitude—yakni pengalaman menyendiri secara sadar yang justru memperkaya kesejahteraan mental dan emosional.
Baca Juga: Arab Saudi Setujui Penambahan Kuota Petugas Haji Indonesia, Sudah Masuk E-Hajj
Kesendirian yang dipilih dengan sadar bukanlah bentuk keterasingan, melainkan refleksi dari kebutuhan batin untuk jeda, pemulihan, dan pertumbuhan pribadi.
Beragam studi menguatkan hal ini. Survei nasional di Amerika Serikat tahun 2024 mencatat bahwa 56 persen responden menganggap waktu menyendiri esensial bagi kesehatan mental mereka.
Dalam kesendirian yang dijalani dengan kesadaran, seseorang dapat "mengisi ulang baterai" emosional, memelihara kejernihan pikiran, dan mengaktifkan kreativitas yang selama ini terpendam.
Namun demikian, stigma budaya masih melekat kuat. Thomas, seorang peneliti sosial, menyebut bahwa terdapat kecemasan kolektif terhadap konsep kesendirian, yang bersumber dari nilai-nilai sosial yang mengagungkan ekstroversi dan interaksi sosial sebagai norma ideal.
Tak jarang, mereka yang menikmati waktu sendiri dilabeli negatif—dipandang "aneh," “antisosial,” atau bahkan dianggap mengalami masalah psikologis.
Media juga turut memperkuat stigma ini dengan menggambarkan kesendirian sebagai simbol kesedihan atau keterasingan.
Dalam masyarakat yang mengidealkan kepribadian ekstrovert—ramah, ekspresif, dan aktif—kaum introvert yang lebih reflektif dan senyap sering kali disalahpahami.
Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa manfaat kesendirian tidak muncul begitu saja. Kesendirian yang bernilai bukan sekadar menjauh dari keramaian, tetapi hadir secara utuh dalam momen tersebut.
Menyendiri sambil tenggelam dalam layar ponsel justru menjauhkan kita dari esensi keheningan dan refleksi.
Ini menjadi tantangan bagi generasi digital saat ini: saat interaksi virtual menggantikan tatap muka, makna kesendirian pun kian kabur.
Akibatnya, waktu sendiri yang seharusnya jadi momen pemulihan berubah menjadi ruang kosong yang dipenuhi rasa bersalah, canggung, atau bahkan kesepian yang membingungkan.
Padahal, meningkatnya kebutuhan untuk sendiri bisa jadi merupakan sinyal tubuh dan jiwa bahwa kita tengah mencari keseimbangan dari hidup yang terlalu padat, terlalu bising, dan terlalu menuntut.
Kesendirian yang dijalani dengan sadar bukanlah bentuk penolakan terhadap dunia, melainkan jalan untuk kembali memahami siapa diri kita di tengah dunia yang terus bergerak cepat.
Baca Juga: Pasca Blunder Lawan Lyon, Andre Onana tak Masuk Skuad MU Lawan Newcastle United
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






