Akurat Logo

Produksi Listrik Panas Bumi PGE Cetak Rekor, Tembus 108,22 Persen Target

Idham Nur Indrajaya | 23 Oktober 2026, 18:36 WIB
Produksi Listrik Panas Bumi PGE Cetak Rekor, Tembus 108,22 Persen Target
Produksi listrik panas bumi PGE cetak rekor pada Januari–September 2026, melampaui target dengan dukungan keandalan pembangkit. - dok. PGE

AKURAT.CO Rekor produksi listrik panas bumi menjadi modal penting bagi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) untuk menjaga pertumbuhan bisnis energi terbarukan. Sepanjang Januari–September 2026, perusahaan mencatatkan produksi listrik dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri (own operation) sebesar lebih dari 4.100 gigawatt hour (GWh), melampaui target sembilan bulan yang ditetapkan perusahaan.

Berdasarkan keterangan resmi PGE, realisasi produksi tersebut mencapai 108,22% dari target periode Januari–September 2026 sebesar 3.801 GWh. Perusahaan juga mengklaim capaian itu sebagai rekor produksi tertinggi untuk periode sembilan bulan, didukung oleh keandalan pembangkit, pengelolaan reservoir, serta pemeliharaan operasional.

Capaian ini menjadi indikator positif bagi PGE. Meski demikian, keberhasilan melampaui target sembilan bulan tidak otomatis menjamin target produksi tahunan tercapai. Perusahaan masih perlu menjaga kinerja pembangkit sepanjang kuartal IV-2026 untuk memenuhi sasaran produksi sekitar 5.255 GWh.

Baca Juga: Kementerian ESDM Tugaskan PLN Garap Panas Bumi Ungaran, Pengembangan 55 MW Masih Tunggu Eksplorasi

Baca Juga: PGEO Memulai Pengeboran Sumur Kedua untuk Pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3

Produksi Listrik Panas Bumi PGE Lampaui Target Januari–September 2026

Produksi listrik panas bumi PGE pada sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan realisasi di atas rencana perusahaan. Dengan pencapaian 108,22% dari target, produksi aktual berada di atas sasaran 3.801 GWh yang ditetapkan untuk periode tersebut.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan rekor produksi itu menjadi landasan bagi perusahaan untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis dengan tetap memperhatikan tata kelola perusahaan, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi.

“Rekor produksi ini menjadi pijakan yang kuat bagi kami. Kami optimistis dapat terus tumbuh secara disiplin, sehingga keunggulan operasional PGE memberi manfaat bagi pemegang saham, masyarakat, dan ketahanan energi Indonesia,” kata Ahmad Yani melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Jumat, 23 Oktober 2026.

Pencapaian di atas target tersebut memperlihatkan pentingnya kemampuan perusahaan menjaga produksi aktual agar tetap sejalan dengan rencana operasional. Dalam industri pembangkit listrik, target produksi tidak hanya berkaitan dengan kapasitas fasilitas, tetapi juga kesiapan unit pembangkit, ketersediaan pasokan uap, dan pengelolaan fasilitas produksi.

Perbandingan dengan periode sebelumnya juga menjadi salah satu indikator untuk membaca perkembangan kinerja PGE. Dalam narasi perusahaan, produksi Januari–September 2025 tercatat sebesar 3.747 GWh, dengan kenaikan produksi pada 2026 disebut mencapai sekitar 9,8%.

Namun, angka produksi total 2026 dalam naskah sumber mengalami kerusakan format dan perlu dikonfirmasi kembali. Angka produksi, persentase pencapaian target, dan pertumbuhan tahunan harus konsisten secara matematis sebelum angka final digunakan dalam publikasi.

Apa yang Membuat Produksi PGE Mencapai Rekor?

Pencapaian produksi listrik panas bumi PGE tidak terlepas dari pengelolaan operasional pembangkit. Perusahaan menyebut disiplin operasi dan pemeliharaan, optimalisasi produksi, serta kesiapan pasokan uap sebagai faktor yang mendukung realisasi produksi selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan perusahaan berupaya menjaga keandalan pembangkit melalui pengelolaan reservoir dan pemeliharaan yang lebih efisien. Kedua aspek tersebut penting untuk mempertahankan pasokan listrik dari sumber panas bumi secara konsisten.

“Capaian ini merupakan wujud nyata komitmen kami menjaga keandalan listrik panas bumi. Hasil ini buah dari disiplin mengelola reservoir, kesiapan pembangkit, dan eksekusi pemeliharaan yang semakin efisien. Dengan begitu, kami terus menghadirkan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan untuk menunjang ketahanan energi nasional,” katanya.

Pengelolaan reservoir menjadi salah satu aspek penting dalam operasional pembangkit panas bumi karena pasokan uap dari bawah permukaan digunakan untuk menggerakkan turbin. Kesiapan pembangkit saja tidak cukup jika pasokan uap tidak dapat dipertahankan sesuai kebutuhan operasi.

Di sisi lain, pemeliharaan fasilitas membantu perusahaan mengantisipasi gangguan yang berpotensi mengurangi produksi. Perencanaan pemeliharaan yang baik juga perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan perawatan dan kontinuitas operasi pembangkit.

Meski demikian, penjelasan mengenai faktor pendukung produksi tersebut masih berasal dari keterangan perusahaan. Untuk mengukur kontribusi masing-masing faktor secara lebih terperinci, diperlukan data tambahan mengenai produksi per unit, durasi gangguan, ketersediaan uap, dan perubahan kinerja pembangkit dibandingkan tahun sebelumnya.

EAF PGE Capai 98,51%, EFOR Hanya 0,21%

Salah satu indikator yang mendukung penilaian terhadap kinerja operasional PGE adalah Equivalent Availability Factor (EAF). Hingga September 2026, EAF kumulatif perusahaan mencapai 98,51%, melampaui rencana sebesar 92,20%.

EAF menggambarkan tingkat ketersediaan pembangkit untuk beroperasi selama periode tertentu dengan memperhitungkan kapasitas yang tersedia. Angka yang tinggi menunjukkan pembangkit memiliki tingkat kesiapan yang baik, meskipun tidak dengan sendirinya menunjukkan besarnya produksi listrik aktual.

Selain EAF, PGE mencatat Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) sebesar 0,21%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan batas rencana perusahaan sebesar 1,48%.

EFOR digunakan untuk mengukur dampak gangguan paksa terhadap kesiapan pembangkit. Semakin rendah nilainya, semakin kecil gangguan paksa yang tercermin dalam indikator tersebut. Bagi perusahaan pembangkit, kondisi ini membantu menjaga kemampuan fasilitas untuk beroperasi sesuai rencana.

Kedua indikator tersebut memberikan konteks penting di balik rekor produksi PGE. Realisasi produksi yang melampaui target menjadi hasil yang terukur, sedangkan EAF dan EFOR membantu menjelaskan kondisi keandalan operasional yang mendukung pencapaian itu.

Namun, angka EAF sebesar 98,51% tidak berarti produksi listrik mencapai 98,51% dari target. Keduanya mengukur hal yang berbeda: EAF berhubungan dengan ketersediaan pembangkit, sedangkan pencapaian target produksi membandingkan jumlah listrik yang dihasilkan dengan rencana produksi.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.