Akurat Logo

KAI Angkut 50,7 Juta Ton Barang hingga September 2026

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 22 Oktober 2026, 09:50 WIB
KAI Angkut 50,7 Juta Ton Barang hingga September 2026
Ilustrasi Kereta angkutan barang - Dok. PT KAI

AKURAT.CO PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat pengangkutan 50.756.132 ton barang sepanjang Januari–September 2026. Volume tersebut terdiri atas 41.607.561 ton batu bara dan 9.148.571 ton komoditas nonbatu bara.

Angkutan nonbatu bara meningkat 2,65% dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 8.912.566 ton, atau bertambah 236.005 ton.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba mengatakan, kebutuhan angkutan barang berkaitan dengan kegiatan ekonomi yang berlangsung di berbagai daerah.

Mulai dari pengiriman bahan baku industri, hasil produksi, hingga komoditas yang digunakan dalam aktivitas perdagangan dan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Tabrakan di Bekasi Timur, PT KAI Harus Evaluasi Sistem Persinyalan hingga Prosedur Penghentian Darurat

“Setiap komoditas mempunyai perjalanan yang berbeda. Ada barang yang dibutuhkan untuk menjaga kegiatan pabrik, ada hasil produksi yang harus dikirim ke pusat distribusi, dan ada kebutuhan masyarakat yang bergantung pada kelancaran pasokan. KAI melayani bagian dari perjalanan tersebut melalui jaringan kereta api yang terhubung dengan berbagai kegiatan ekonomi,” kata Anne, Rabu (21/10/2026) malam.

Komposisi angkutan barang KAI memperlihatkan besarnya kebutuhan pengiriman lintas sektor. Komoditas nonbatu bara menyumbang 18,02% dari total volume angkutan barang.

Pada kelompok tersebut, angkutan petikemas mencapai 4.438.999 ton, setara 48,52% dari keseluruhan nonbatu bara, atau meningkat 19,57% dibandingkan periode Januari–September 2025.

Selain petikemas, angkutan barang KAI melayani berbagai komoditas seperti bahan bakar minyak, semen dan klinker, hasil perkebunan, pupuk, serta barang retail.

Setiap jenis barang memiliki kebutuhan pengiriman yang berbeda, baik dari sisi volume, lokasi tujuan, maupun fasilitas penanganannya. Keragaman tersebut menjadi bagian dari pengembangan layanan logistik yang mengikuti kebutuhan pelanggan industri dan perdagangan.

Baca Juga: PT KAI Buka Rekrutmen Besar-besaran, Lulusan SMA hingga S1 Siap-siap Melamar

Menurut Anne, salah satu tantangan distribusi barang adalah keterhubungan antartahapan perjalanan. Barang yang diangkut menggunakan kereta api tetap membutuhkan dukungan terminal, kawasan pergudangan, dan transportasi lanjutan untuk mencapai penerima.

Karena itu, pengembangan layanan logistik berbasis rel perlu berjalan bersama kerja sama antarpelaku usaha dan pengelola infrastruktur.

“Bagi pelaku usaha, kepastian distribusi penting untuk merencanakan produksi dan pengiriman barang. Kereta api memiliki kemampuan mengangkut muatan besar dalam satu rangkaian, sementara transportasi lanjutan membantu menjangkau lokasi di luar jaringan rel. Keterhubungan tersebut membuka pilihan bagi industri dalam mengatur rantai pasoknya,” ujar Anne.

Dalam jangka panjang, pengembangan infrastruktur logistik juga berkaitan dengan efisiensi biaya distribusi dan pemanfaatan energi.

Penggunaan kereta api untuk pengiriman berkapasitas besar dapat menjadi salah satu pilihan dalam merancang jaringan angkutan yang lebih efisien, bergantung pada jarak, jenis komoditas, kapasitas muatan, dan kondisi distribusi di masing-masing koridor.

Manfaatnya semakin relevan ketika pelaku usaha perlu mempertimbangkan produktivitas sekaligus dampak lingkungan.

“Kami berharap penguatan konektivitas ini memberi lebih banyak pilihan distribusi bagi pelaku usaha serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan,” tutur Anne.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.