Teknologi CCU Petrokimia Gresik Hasilkan Soda Ash, Impor Bisa Ditekan

AKURAT.CO Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa penerapan teknologi rendah karbon sebagai salah satu langkah strategis untuk mempercepat pencapaian target dekarbonisasi sektor industri sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.
Salah satu upaya yang dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) dimana emisi karbon dioksida (CO2) dari proses industri diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi.
“Salah satu kunci keberhasilan dekarbonisasi pada sektor industri adalah kemampuan untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi hijau yang sesuai dengan kebutuhan, serta karakteristik proses produksi industri nasional,” kata Sarmuji, dikutip Sabtu (17/10/2026).
Baca Juga: KP2MI dan Kemenperin Perluas Pelatihan Calon Pekerja Migran
Pernyataan tersebut disampaikan pada saat Menperin bersama jajaran meninjau proyek percontohan (pilot project) pengurangan emisi melalui teknologi CCU di PT Petrokimia Gresik.
Penggunaan teknologi ini menjadi bagian dari upaya mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) sektor industri pada 2050 dan NZE nasional pada 2060.
Melalui teknologi CCU, karbon dioksida yang dihasilkan dari proses industri dapat ditangkap dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk bernilai tambah.
Baca Juga: Wajib Halal Oktober 2026, Kemenperin Siapkan Pendampingan bagi Industri
Pendekatan ini membuka peluang untuk mengintegrasikan upaya pengurangan emisi dengan pengembangan produk baru dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
“Pilot project CCU perlu kita perluas karena terbukti menghasilkan manfaat, pertama yaitu terjadi penurunan emisi karena dekarbonisasi, dan kedua menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Teknologi CCU telah menghasilkan produk soda ash dengan jumlah yang lumayan,” ujar Sarmuji.
=====
Proyek percontohan CCU memanfaatkan karbon yang ditangkap dan diolah kembali menjadi produk samping berupa soda ash dan natrium bicarbonate. Saat ini, pemanfaatan teknologi tersebut telah diarahkan pada pengujian kualitas dan kemurnian soda ash.
Berdasarkan hasil pengujian oleh empat pihak yaitu BBSPJIKFK, BSPJI Surabaya, Petrokimia Gresik dan Sucofindo, kandungan soda ash menunjukkan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan kandungan natrium karbonat (Na2CO3) dalam produk tersebut tercatat pada kisaran 99%.
Menperin menilai, hasil pengembangan tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan emisi karbon sebagai sumber bahan baku alternatif yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi. Dimana saat ini Indonesia masih mengimpor (net importir) untuk soda ash.
“Melalui CCU, CO2 dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif penghasil produk industri, mengurangi ketergantungan impor soda ash, sekaligus memacu diversifikasi produk,” tuturnya.
Di sisi kebijakan, Kemenperin terus berkomitmen untuk mempercepat dekarbonisasi melalui pengendalian emisi dari tiga sumber utama, yaitu penggunaan energi, Industrial Processes and Product Use (IPPU), serta limbah.
Upaya tersebut mencakup penetapan sembilan subsektor industri prioritas pada strategi dekarbonisasi, yang terdiri atas semen, pupuk, logam, pulp dan kertas, tekstil, kimia, keramik dan kaca, makanan dan minuman, serta alat angkut.
=====
Empat subsektor pertama menjadi prioritas perdagangan emisi sektor industri tahap pertama pada 2028–2035. Sementara itu, lima subsektor lainnya diprioritaskan pada tahap kedua periode 2036–2050.
Ke depan, teknologi CCU berpotensi dikaji untuk diterapkan pada subsektor industri lain yang menghasilkan emisi karbon dioksida CO2 maupun polutan udara.
Menperin menjelaskan, sebagian pelaku industri masih memandang upaya dekarbonisasi sebagai tambahan biaya. Namun, proyek percontohan ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi hijau dapat memberikan manfaat lebih luas, baik bagi proses produksi maupun lingkungan.
“Teknologi ini akan kami evaluasi secara berkelanjutan agar dapat diterapkan dalam skala industri, bukan sekadar pilot project. Manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam proses produksi, tetapi juga oleh masyarakat secara umum,” ungkap Sarmuji.
Menperin berharap proyek percontohan di PT Petrokimia Gresik dapat menjadi model pengembangan teknologi pengendalian emisi yang berpotensi diterapkan di sektor industri lainnya.
Hasil evaluasi penerapan teknologi tersebut juga akan menjadi pertimbangan dalam penyusunan peta jalan penerapan teknologi hijau, termasuk kemungkinan pemberlakuan kewajiban penerapannya apabila terbukti efektif dan tidak membebani industri.
“Kami akan menyusun roadmap penerapan teknologi hijau. Jika terbukti efektif dan tidak membebani industri, ke depan penerapannya dapat diwajibkan. Teknologi ini juga berpotensi diterapkan pada PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), sehingga dapat mendukung pengendalian emisi sekaligus memperpanjang umur operasional PLTU,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









