Akurat Logo

Angkutan Ritel KAI Tumbuh, Tembus 191 Ribu Ton hingga September 2026

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 8 Oktober 2026, 17:27 WIB
Angkutan Ritel KAI Tumbuh, Tembus 191 Ribu Ton hingga September 2026
Angkutan ritel KAI

AKURAT.CO PT Kereta Api Indonesia (Persero) berhasil mengangkut 191.232 ton angkutan retail sepanjang Januari–September 2026.

Angka ini meningkat 2,96% dibandingkan sekitar 185.733 ton pada periode yang sama tahun 2025. Secara volume, terdapat tambahan sekitar 5.499 ton barang yang bergerak melalui jaringan rel.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha mulai memanfaatkan lebih banyak pilihan moda untuk mengatur distribusi barang.

Baca Juga: KAI Angkut 41,6 Juta Ton Batu Bara hingga September 2026

“Sebanyak 191 ribu ton angkutan retail telah bergerak menggunakan kereta api selama sembilan bulan pertama 2026. Bagi pelanggan bisnis, pilihan moda menjadi penting karena setiap jenis barang memiliki kebutuhan volume, jarak, waktu pengiriman, dan biaya yang berbeda,” kata Anne, Kamis (8/10/2026).

Angkutan retail menjadi bagian dari portofolio nonbatu bara KAI. Hingga 30 September 2026, volume angkutan nonbatu bara mencapai 9.148.571 ton, tumbuh 2,6% dibandingkan 8.912.566 ton pada periode yang sama tahun 2025. Komoditasnya mencakup petikemas, pupuk, semen, BBM, pulp, hasil perkebunan, dan retail. Pendapatan angkutan nonbatu bara pada periode tersebut mencapai sekitar Rp1,095 triliun, meningkat 7,2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Anne, kereta api memiliki karakter yang sesuai untuk barang dengan volume besar dan pengiriman yang berulang pada koridor tertentu. Satu rangkaian dapat membawa muatan dalam jumlah besar dalam satu perjalanan, sehingga sebagian arus barang jarak menengah dan jauh dapat dialihkan dari jalan raya ke rel.

“Kereta api cocok untuk pengiriman dalam jumlah besar dan pola yang rutin. Sementara truk tetap penting untuk mengambil barang dari lokasi produksi menuju terminal dan mengantarkannya dari terminal ke tujuan akhir. Pembagian fungsi seperti ini membuat rantai distribusi dapat dirancang lebih efisien,” ujar Anne.

Kementerian Perhubungan mencatat lebih dari 90 persen angkutan barang di Indonesia masih mengandalkan jalan raya. Ketergantungan yang tinggi terhadap kendaraan berat memberi dampak pada kemacetan, kerusakan jalan, konsumsi energi, serta biaya distribusi. Pengembangan angkutan berbasis rel menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi beban tersebut.

Pemanfaatan rel juga relevan dengan perdagangan antarwilayah. BPS mencatat kebutuhan dan ketersediaan komoditas yang berbeda antardaerah mendorong arus perdagangan dari satu provinsi ke provinsi lain. Karena itu, sistem distribusi yang efisien menjadi penting agar barang dapat bergerak dengan biaya yang lebih terukur dan harga di daerah tujuan tetap kompetitif.

KAI melihat peluang pengembangan angkutan retail masih terbuka pada koridor dengan volume dan frekuensi pengiriman yang memadai. Pengembangan diarahkan pada konektivitas terminal, pola perjalanan yang terjadwal, kapasitas angkut, serta integrasi dengan layanan logistik darat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.