Kendalikan Inflasi, Pemerintah Tak Naikkan Harga BBM Subsidi

AKURAT.CO Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, baik bensin maupun solar, tetap dijaga agar tidak mengalami kenaikan di tengah tekanan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman mengatakan, stabilitas harga BBM menjadi salah satu kunci dalam menjaga inflasi. Pasalnya, BBM memiliki keterkaitan langsung dengan biaya transportasi hingga aktivitas produksi masyarakat.
"Jadi yang pertama tadi sudah saya sebutkan bahwa yang paling utama dari pengendalian inflasi dari BBM ini adalah menjaga agar BBM subsidi, solar dan bensin itu diharga tetap, tidak ada kenaikan,” kata Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 yang disiarkan di Youtube Kemendagri, Senin (5/10/2026).
Baca Juga: Antrean BBM Subsidi di Makassar Mulai Kondusif, 80 Persen SPBU Membaik
Laode menambahkan, BBM subsidi tidak hanya digunakan untuk kebutuhan transportasi, tetapi juga menopang aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk nelayan dan petani.
Karena itu, kenaikan harga BBM berpotensi meningkatkan biaya operasional dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap harga barang dan jasa. "Kenapa? Karena ini adalah komponen terbesar yang juga dipakai oleh nelayan dan petani," tambahnya.
Kehilangan 25 Persen Sumber Impor
Di sisi lain, upaya menjaga harga BBM menghadapi tantangan dari sisi pasokan. Laode mengungkapkan, konflik di Timur Tengah telah menyebabkan Indonesia kehilangan sekitar 25% sumber impor BBM.
“Lalu yang kedua, semenjak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25% sumber impor,” ucapnya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mencari sumber pasokan alternatif untuk memastikan stok nasional tetap tersedia. Strategi pengadaan pun mulai bergeser dari mekanisme lelang yang selama ini dilakukan Pertamina.
"Nah, apa yang dilakukan sekarang? Yang dilakukan sekarang adalah kita melakukan hunting untuk menjaga agar stok nasional itu ada dan hunting ini tidak lagi mekanisme pengadaan seperti sebelumnya,” tutur Laode.
Namun, strategi tersebut berpotensi membuat biaya pengadaan BBM menjadi lebih mahal dibandingkan mekanisme pengadaan normal. "Jadi, kita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok, kita beli dengan harga yang akan bisa berpotensi lebih tinggi daripada harga kalau kita lakukan dengan pengadaan biasa," tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 3Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 6Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 7Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Rocky Gerung Minta Buruh Kawal RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Jangan Mundur jika Berhadapan Kekuasaan
- 10Hanya Kompromi Politik, Fahri Hamzah Tantang DPR Tetapkan Ambang Batas Parlemen Nol atau 20 Persen








