Akurat Logo

39 Tahun LippoLand: dari Pengembang Kawasan ke Property Enabler di Indonesia

Yosi Winosa | 3 Oktober 2026, 02:00 WIB
39 Tahun LippoLand: dari Pengembang Kawasan ke Property Enabler di Indonesia
Perjalanan LippoLand dimulai pada 1987 dengan pembangunan Lippo City dan kemudian Lippo Village

AKURAT.CO Memasuki usia ke-39 di industri properti Indonesia, LippoLand terus memperluas perannya dari pengembang kawasan menjadi property enabler, dengan berupaya menghadirkan solusi hunian yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan perumahan di Indonesia.

Perjalanan LippoLand dimulai pada 1987 dengan pembangunan Lippo City dan kemudian Lippo Village. Selama hampir empat dekade, perjalanan tersebut berkembang melalui berbagai kawasan dan produk properti yang menjangkau beragam segmen masyarakat.

Namun, bagi LippoLand, pengalaman 39 tahun tersebut bukan hanya tentang seberapa banyak kawasan yang telah dibangun, melainkan bagaimana pengalaman tersebut dapat terus relevan terhadap perubahan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Baca Juga: UX Tower Sold, LippoLand Dorong Babak Baru Urban Living Lewat RX Tower di Lippo Village CBD

CEO LippoLand, David Iman Santosa mengatakan, perjalanan panjang tersebut membawa tanggung jawab untuk terus memahami persoalan dan aspirasi masyarakat.

“Selama 39 tahun, LippoLand tumbuh bersama Indonesia. Karena itu, kami tidak hanya ingin melihat bagaimana industri properti berkembang, tetapi juga bagaimana kami dapat tetap relevan dan memberikan kontribusi terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk dalam persoalan perumahan,” ujar David.

Menjadi Relevan bagi Kebutuhan Perumahan Indonesia

Salah satu tantangan terbesar Indonesia adalah masih besarnya kebutuhan terhadap hunian yang terjangkau. Dengan backlog kepemilikan rumah yang masih mencapai sekitar 9 juta keluarga, penyediaan hunian tidak dapat menjadi tanggung jawab satu pihak saja.

Dibutuhkan partisipasi yang lebih luas dari pengembang, sektor perbankan, dan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.

Dalam konteks tersebut, LippoLand berupaya menggunakan pengalaman yang dimiliki selama 39 tahun untuk menghadirkan hunian dasar yang semakin terjangkau dan dapat diakses oleh lebih banyak masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan hunian dengan harga mulai sekitar Rp100 juta dan skema cicilan sekitar Rp600 ribu per bulan.

LippoLand telah berhasil menjual sekitar 5.000 unit dalam segmen hunian tersebut. Namun, David menilai skala kebutuhan nasional masih jauh lebih besar sehingga diperlukan kontribusi bersama dari seluruh ekosistem perumahan.

Angka backlog sekitar 9 juta keluarga menunjukkan bahwa kebutuhan perumahan di Indonesia masih sangat besar. LippoLand menyadari bahwa LippoLand tidak mungkin menjawab kebutuhan tersebut sendirian. Dibutuhkan partisipasi yang lebih luas dari seluruh pengembang, perbankan, pemerintah, dan seluruh ekosistem perumahan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.