Akurat Logo

PLN EPI Siapkan Co-firing Amonia di PLTU, Uji Coba Dimulai 2027

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 2 Oktober 2026, 16:13 WIB
PLN EPI Siapkan Co-firing Amonia di PLTU, Uji Coba Dimulai 2027
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir

AKURAT.CO PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyiapkan pengembangan cofiring amonia sebagai salah satu opsi bahan bakar rendah karbon untuk mendukung penurunan emisi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Setelah memulai studi pasokan pada 2026, PLN EPI menargetkan uji coba skala kecil dengan tingkat cofiring hingga 3% di PLTU Labuan pada 2027 sebagai tahap awal.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir mengatakan, pengembangan amonia merupakan bagian dari upaya memperluas opsi bahan bakar rendah karbon pada pembangkit eksisting.

Baca Juga: PLN EPI dan Danantara Siapkan Model Pengelolaan Sampah Terpadu di Bandung, Jadi Sumber Energi Sekunder

Namun, implementasinya membutuhkan kajian menyeluruh karena tidak hanya berkaitan dengan kesiapan teknologi pembangkit, tetapi juga ketersediaan pasokan dan keekonomian.

“Untuk amonia, kami sedang melakukan kajian, termasuk dari sisi pasokan dan teknologi. Kita perlu mulai dari pilot project untuk melihat aspek teknis sekaligus keekonomiannya,” kata Hokkop dalam keterangannya, Jumat (2/10/2026).

Dalam roadmap PLN EPI, tahapan pengembangan dimulai dengan studi pasokan amonia pada 2026, dengan Pupuk Kujang Cikampek sebagai salah satu sumber awal yang dikaji. Tahapan berikutnya adalah uji coba skala kecil dengan tingkat cofiring maksimal 3% di PLTU Labuan pada 2027.

Hasil pilot project tersebut akan menjadi basis evaluasi teknis dan studi keekonomian pada 2028. Selanjutnya, PLN EPI menargetkan pengembangan integrasi rantai pasok amonia pada 2029 dan studi kelayakan penerapan co-firing sekitar 3–5% atau lebih pada 2030.

Bangun Fondasi Teknis dan Rantai Pasok

Menurut Hokkop, pendekatan bertahap diperlukan karena pengembangan cofiringnamonia memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan bahan bakar konvensional.

Selain memastikan kemampuan pembangkit dalam menerima campuran amonia, keekonomian menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan kelayakan penerapannya.

“Untuk saat ini, harganya masih menjadi tantangan. Karena itu, kita perlu melakukan pilot terlebih dahulu, belajar dari sana, kemudian melihat bagaimana teknologi dan keekonomiannya berkembang,” ucap Hokkop.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.