Akurat Logo

RI Surplus Perdagangan Furnitur, 60 Persen Masih Bergantung pada Pasar AS

Esha Tri Wahyuni | 26 September 2026, 19:55 WIB
RI Surplus Perdagangan Furnitur, 60 Persen Masih Bergantung pada Pasar AS
Ilustrasi furnitur RI diekspor ke AS

AKURAT.CO Industri furnitur Indonesia mencatat kinerja perdagangan yang positif, tetapi pemerintah masih melihat adanya risiko dari tingginya ketergantungan ekspor terhadap satu pasar. Sekitar 60% ekspor furnitur Indonesia saat ini masih diserap Amerika Serikat (AS).

Kondisi tersebut mendorong pemerintah meminta pelaku industri furnitur memperluas pasar ekspor, terutama dengan membangun hubungan langsung dengan pembeli internasional dan memperkuat jejaring perdagangan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, diversifikasi pasar diperlukan sebagai salah satu upaya menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

“Penyelenggaraan IFFINA+ hari ini menjadi penting sebagai salah satu bentuk sarana memitigasi risiko dengan jalan memperluas pasar, membangun hubungan langsung dengan pembeli internasional, serta mengurangi ketergantungan ekspor pada pasar-pasar tertentu,” kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/9/2026).

Baca Juga: Menperin Dorong Industri Furnitur RI Jadi Pusat Manufaktur Global

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, neraca perdagangan industri furnitur Indonesia telah mencatat surplus sejak 2021. Pada 2025, nilai ekspor furnitur mencapai USD2,39 miliar, sedangkan impor tercatat USD1,92 miliar.

Dengan demikian, industri furnitur mencatat surplus perdagangan sebesar USD473,31 juta pada 2025. Indonesia juga berada di peringkat ke-25 sebagai eksportir furnitur dunia dengan pangsa pasar global sebesar 0,77%.

Meski demikian, besarnya kontribusi pasar AS menunjukkan ekspor furnitur Indonesia masih terkonsentrasi pada tujuan tertentu. Pemerintah menilai kondisi tersebut perlu diimbangi dengan pembukaan akses ke pasar internasional lainnya.

Airlangga mengatakan Indonesia masih memiliki ruang untuk meningkatkan pangsa pasar furnitur dunia. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas dan desain produk, penguatan aspek keberlanjutan, promosi perdagangan, serta perluasan jejaring dengan pembeli internasional.

“Indonesia memiliki peluang yang besar untuk meningkatkan pangsa pasar furnitur dunia melalui penguatan kualitas, desain, keberlanjutan produk, promosi dagang, serta perluasan jejaring dengan buyer internasional,” ujar Airlangga.

Selain persoalan pasar, pemerintah menilai perubahan preferensi konsumen global perlu menjadi perhatian industri furnitur nasional. Permintaan disebut semakin mengarah pada produk yang fungsional, mudah disesuaikan, dan menggunakan material yang ramah lingkungan.

Indonesia memiliki basis bahan baku yang dapat mendukung pengembangan produk tersebut. Produksi kayu bulat nasional pada 2024 mencapai 57,46 juta meter kubik. Indonesia juga disebut menghasilkan lebih dari 80% rotan dunia.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.