PIS Bantu Nelayan Desa Kelan Pangkas Biaya Operasional dari Rp600 Ribu Jadi Rp200 Ribu

AKURAT.CO Bagi nelayan, pengeluaran bahan bakar bukan sekadar pos biaya rutin. Setiap rupiah yang keluar untuk menjalankan kapal ikut menentukan berapa besar hasil melaut yang tersisa untuk dibawa pulang. Di Desa Kelan, Bali, penggunaan kapal listrik mulai mengubah perhitungan tersebut: biaya operasional yang sebelumnya sekitar Rp600.000 per bulan kini menjadi sekitar Rp200.000.
Penurunan pengeluaran itu menjadi salah satu dampak ekonomi dari Program Desa Energi Berdikari (DEB) Keluarga Nelayan Lestari (KENALI) yang didukung PT Pertamina International Shipping (PIS). Program tersebut memadukan pemanfaatan energi bersih dengan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Secara sederhana, biaya operasional nelayan Desa Kelan berkurang sekitar Rp400.000 per bulan berdasarkan pengalaman salah satu anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tanjung Sari. Penghematan tersebut tidak berdiri sendiri karena kapal listrik juga membuka peluang pemanfaatan baru di kawasan mangrove.
Mengapa Biaya Operasional Nelayan Desa Kelan Bisa Turun?
Perubahan biaya tersebut berkaitan dengan penggunaan kapal listrik yang mendapatkan dukungan infrastruktur energi bersih melalui Program KENALI. PIS membangun ruang serbaguna untuk KUB Tanjung Sari yang dilengkapi panel surya berkapasitas 8,72 kWp.
Panel surya tersebut berfungsi sebagai solar charging station untuk mengoperasikan 10 baterai dan lima mesin kapal listrik. Dengan sistem tersebut, energi untuk menjalankan kapal tidak sepenuhnya bergantung pada bahan bakar seperti pada mesin konvensional.
Dampak ekonominya terlihat dari pengalaman I Wayan Wirtha, anggota KUB Tanjung Sari. Ia mengatakan pengeluaran bahan bakar yang sebelumnya mencapai sekitar Rp600.000 per bulan kini jauh lebih rendah.
“Selain mendapat tambahan penghasilan dari ecotrip, biaya operasional kami juga jauh lebih hemat. Dulu pengeluaran untuk bahan bakar bisa mencapai Rp600.000 per bulan, sekarang sekitar Rp200.000 saja sebagai cadangan,” ujar I Wayan Wirtha melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Kamis, 24 September 2026.
Baca Juga: Usia 51 Tahun, Polytron Perluas Ekosistem Teknologi hingga Kendaraan Listrik
Baca Juga: Enlit Asia 2026 Digelar, Bahlil Dorong Inovasi Ketenagalistrikan
Angka tersebut berarti terdapat selisih sekitar Rp400.000 dalam pengeluaran bulanan. Jika pola pengeluaran itu konsisten selama satu tahun, secara matematis selisihnya setara sekitar Rp4,8 juta.
Namun, angka Rp4,8 juta tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan selisih biaya bulanan, bukan klaim bahwa seorang nelayan pasti menghemat nominal tersebut dalam setahun. Pengeluaran aktual tetap dapat berubah bergantung pada intensitas melaut dan kebutuhan operasional masing-masing.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 2Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK






