Akurat Logo

PIS Bantu Nelayan Desa Kelan Pangkas Biaya Operasional dari Rp600 Ribu Jadi Rp200 Ribu

Idham Nur Indrajaya | 25 September 2026, 06:20 WIB
PIS Bantu Nelayan Desa Kelan Pangkas Biaya Operasional dari Rp600 Ribu Jadi Rp200 Ribu
Biaya operasional nelayan Desa Kelan turun dari Rp600 ribu jadi Rp200 ribu berkat kapal listrik yang didukung PIS. - dok. Pertamina International Shipping

AKURAT.CO Bagi nelayan, pengeluaran bahan bakar bukan sekadar pos biaya rutin. Setiap rupiah yang keluar untuk menjalankan kapal ikut menentukan berapa besar hasil melaut yang tersisa untuk dibawa pulang. Di Desa Kelan, Bali, penggunaan kapal listrik mulai mengubah perhitungan tersebut: biaya operasional yang sebelumnya sekitar Rp600.000 per bulan kini menjadi sekitar Rp200.000.

Penurunan pengeluaran itu menjadi salah satu dampak ekonomi dari Program Desa Energi Berdikari (DEB) Keluarga Nelayan Lestari (KENALI) yang didukung PT Pertamina International Shipping (PIS). Program tersebut memadukan pemanfaatan energi bersih dengan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Secara sederhana, biaya operasional nelayan Desa Kelan berkurang sekitar Rp400.000 per bulan berdasarkan pengalaman salah satu anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tanjung Sari. Penghematan tersebut tidak berdiri sendiri karena kapal listrik juga membuka peluang pemanfaatan baru di kawasan mangrove.

Mengapa Biaya Operasional Nelayan Desa Kelan Bisa Turun?

Perubahan biaya tersebut berkaitan dengan penggunaan kapal listrik yang mendapatkan dukungan infrastruktur energi bersih melalui Program KENALI. PIS membangun ruang serbaguna untuk KUB Tanjung Sari yang dilengkapi panel surya berkapasitas 8,72 kWp.

Panel surya tersebut berfungsi sebagai solar charging station untuk mengoperasikan 10 baterai dan lima mesin kapal listrik. Dengan sistem tersebut, energi untuk menjalankan kapal tidak sepenuhnya bergantung pada bahan bakar seperti pada mesin konvensional.

Dampak ekonominya terlihat dari pengalaman I Wayan Wirtha, anggota KUB Tanjung Sari. Ia mengatakan pengeluaran bahan bakar yang sebelumnya mencapai sekitar Rp600.000 per bulan kini jauh lebih rendah.

“Selain mendapat tambahan penghasilan dari ecotrip, biaya operasional kami juga jauh lebih hemat. Dulu pengeluaran untuk bahan bakar bisa mencapai Rp600.000 per bulan, sekarang sekitar Rp200.000 saja sebagai cadangan,” ujar I Wayan Wirtha melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Kamis, 24 September 2026.

Baca Juga: Usia 51 Tahun, Polytron Perluas Ekosistem Teknologi hingga Kendaraan Listrik

Baca Juga: Enlit Asia 2026 Digelar, Bahlil Dorong Inovasi Ketenagalistrikan

Angka tersebut berarti terdapat selisih sekitar Rp400.000 dalam pengeluaran bulanan. Jika pola pengeluaran itu konsisten selama satu tahun, secara matematis selisihnya setara sekitar Rp4,8 juta.

Namun, angka Rp4,8 juta tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan selisih biaya bulanan, bukan klaim bahwa seorang nelayan pasti menghemat nominal tersebut dalam setahun. Pengeluaran aktual tetap dapat berubah bergantung pada intensitas melaut dan kebutuhan operasional masing-masing.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.