Akurat Logo

Proyek Metanol Batu Bara di Kaltim Mulai Dibangun, Target Produksi 1,3 Juta Ton

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 31 Agustus 2026, 21:32 WIB
Proyek Metanol Batu Bara di Kaltim Mulai Dibangun, Target Produksi 1,3 Juta Ton
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot - Dok. Kementerian ESDM

AKURAT.CO Proyek Strategis Nasional (PSN) Gasifikasi Batubara menjadi Metanol di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur resmi memasuki fase peletakan batu pertama atau groundbreaking.

Proyek ini ditargetkan menghasilkan sekitar 1,3 juta ton metanol per tahun dan berpotensi menghemat devisa hingga Rp7,1 triliun per tahun.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot menegaskan, proyek ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi, ketahanan energi, dan industri dalam negeri.

"Groundbreaking ini menandai dimulainya langkah nyata pembangunan industri methanol berbasis hilirisasi batubara. Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional," kata Yuliot, Senin (31/8/2026).

Baca Juga: ESDM Siapkan Aturan LPG 3 Kg Berdasarkan Desil Kesejahteraan

Proyek ini dikembangkan oleh PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC). Pembangunannya akan memanfaatkan lahan sekitar 943 hektare di kawasan BCIP.

Bisa dipadatkan lagi dengan menggabungkan bagian yang substansinya berdekatan dan memangkas penjelasan teknis yang tidak esensial.

Yuliot berharap hilirisasi BEC dapat menjadi model bagi perusahaan batubara lainnya, mengingat besarnya potensi batubara berkalori rendah di Kalimantan dan Sumatera.

"Kita akan terus mendorong hilirisasi ini yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai prioritas pembangunan semasa kepemimpinan Beliau dalam (program) Asta Cita," ujar Yuliot.

Proyek ini akan mengolah sekitar 7,70-7,78 juta ton batubara berkalori 3.300-3.400 kcal/kg per tahun menjadi metanol berstandar internasional, yaitu International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.

Produksinya ditargetkan mencapai 1,3 juta ton per tahun untuk memenuhi sebagian kebutuhan domestik dan mengurangi impor.

"Kami berharap dengan proyek yang memberikan multiplayer effect yang nyata bagi seluruh stakeholder baik penciptaan lapangan kerja tumbuhnya industri pendukung serta peningkatan aktivitas ekonomi," tutur Yuliot.

Guna menunjang kegiatan operasional, proyek ini dilengkapi fasilitas gasifikasi, reaktor sintesis, pembangkit listrik, pengolahan air, dan terminal pelabuhan. Teknologinya juga disiapkan untuk mengendalikan emisi dan terintegrasi dengan Carbon Capture and Storage (CCS).

Metanol yang dihasilkan akan memasok kebutuhan industri, terutama petrokimia dan formaldehida, serta mendukung pengembangan FAME dan program B50.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur BEC, Rio Supin mengatakan, perusahaan telah memasuki tahap engineering melalui penyusunanFront-End Engineering Design(FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) sejak 29 Juli 2026.

Baca Juga: Kementerian ESDM Serahkan 48 Genset untuk Pulihkan Layanan Kesehatan Pascagempa NTT

"Proyek Gasifikasi Batubara Pertama di Indonesia siap memasuki implementasi target comimsioning tahun 2029 seusai arahan Pak Menteri. BEC siap mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional," jelas Rio.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.