Luhut dan Wang Yi Bahas Penguatan Kerja Sama Indonesia-China di Teknologi hingga Energi Hijau

AKURAT.CO Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Republik Rakyat China, Wang Yi, dalam pertemuan bilateral di Jakarta.
Pertemuan ini mempertegas komitmen kedua negara untuk memperdalam kemitraan strategis yang tidak hanya bertumpu pada proyek infrastruktur berskala besar. Namun, juga menjangkau kolaborasi di bidang teknologi masa depan, pengentasan kemiskinan, dan transformasi digital.
"Hubungan kemitraan antara kedua negara ini ibarat jalinan persahabatan. Semakin sering bertemu dan berdialog, semakin kuat rasa saling percaya di antara keduanya. Itulah yang membuat ruang kerja sama antara Indonesia dan China selalu semakin luas dari waktu ke waktu," kata Luhut dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).
Baca Juga: RI Rangkul AS dan China, Strategi Diplomasi Ambil Manfaat Maksimal Tanpa Terjebak Aliansi
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menekankan bahwa kemitraan strategis yang telah terjalin harus menghasilkan dampak yang konkret dan dirasakan langsung oleh masyarakat luas, bukan sekadar kesepakatan di atas kertas.
"Kerja sama Indonesia-China tidak boleh berhenti sebatas proyek megah semata. Hasilnya harus konkret: membuka lapangan kerja, mentransfer teknologi, dan menaikkan taraf hidup masyarakat kita," tambah Luhut.
Untuk menindaklanjuti komitmen tersebut, DEN bersama National Development and Reform Commission (NDRC) China tengah merumuskan peta jalan strategis jangka panjang yang mencakup sejumlah agenda prioritas.
Melalui kerangka kerja sama DEN dengan NDRC China, Luhut mengungkapkan pihaknya berencana menyusun peta jalan sejumlah agenda strategis.
“Mulai dari keberlanjutan infrastruktur seperti kereta cepat, pengembangan energi hijau di Kalimantan Utara, hingga pembelajaran dari pengalaman Tiongkok dalam pengentasan kemiskinan dan revitalisasi pedesaan agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan hingga tingkat akar rumput," tutur Luhut.
Di luar agenda infrastruktur dan energi, kedua pihak juga membuka ruang kolaborasi di sektor-sektor berbasis teknologi masa depan, dengan tetap mengutamakan kedaulatan data dan keamanan siber nasional.
Kolaborasi strategis Indonesia-China diharapkan dapat menjadi model percontohan sinergi antarnegara Global South yang menggabungkan keunggulan komparatif masing-masing secara saling melengkapi.
”China memiliki kapital, teknologi, dan kapasitas industri. Indonesia memiliki sumber daya, biodiversitas, populasi muda, serta pasar yang besar. Jika kekuatan ini digabungkan atas dasar kepercayaan, kerja sama dua kekuatan Global South ini akan membawa kemakmuran bagi kedua bangsa, sekaligus memberikan manfaat bagi dunia,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







