Krisis Energi Mengintai, Indonesia Percepat Pengembangan EBT

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), salah satunya melalui kemitraan dengan Jerman, terutama pada investasi energi terbarukan dan modernisasi jaringan listrik.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot menjelaskan bahwa ketegangan di Timur Tengah dan gangguan pada rute transit minyak utama di Selat Hormuz mampu memberikan dampak pada harga dan pasokan energi serta biaya logistik.
Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan inflasi, menambah beban fiskal APBN melalui subsidi energi, dan memengaruhi daya beli masyarakat.
Pemerintah menargetkan porsi bauran EBT sebesar 18 persen hingga 21 persen pada 2026. Indonesia tercatat memiliki potensi EBT sebesar 3.687 gigawatt (GW), terdiri atas energi surya 3.294 GW, tenaga air 95 GW, angin 155 GW, energi laut 63 GW, bioenergi 57 GW, dan panas bumi 24 GW.
Baca Juga: Kementerian ESDM Mulai Uji Coba CNG 3 Kg di Kantin Lemigas
Namun, Yuliot menyebut pemanfaatan potensi tersebut saat ini baru mencapai 16,278 GW atau kurang dari 0,5%.
"Tantangan di hadapan kita memang tidak kecil, namun dengan keahlian kolektif dan komitmen yang teguh, saya yakin kita mampu membuka peluang-peluang baru, memperkuat ketahanan energi nasional, serta memberikan kontribusi nyata bagi masa depan," kata Yuliot dikutip dari laman ESDM, Kamis (20/8/2026).
Selain EBT, pemerintah menjalankan Program Mandatori Biofuel B-50 sejak 1 Juli 2026.
Program ini diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp170 triliun, menghasilkan nilai tambah industri CPO sebesar Rp23,5 triliun, menyerap 2,1 juta tenaga kerja, serta menekan emisi gas rumah kaca sebesar 44,5 juta ton CO2.
Sementara itu, Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, Reem Alabali Radovan menegaskan bahwa Jerman bersama Indonesia akan terus memperkuat investasi energi terbarukan, perluasan jaringan listrik, serta kemitraan dengan dunia usaha.
"Dalam beberapa tahun mendatang, kami ingin memperluas kerja sama ekonomi dengan Indonesia secara terarah dan memperkuat investasi swasta, khususnya dalam energi terbarukan dan perluasan jaringan listrik," ujarnya.
Kerja sama energi Indonesia-Jerman yang didukung BMZ dan International Climate Initiative (IKI) telah mencatat komitmen dukungan kumulatif lebih dari 2,3 miliar euro.
Baca Juga: Kementerian ESDM Ungkap Potensi Panas Bumi RI yang Baru Terpakai 11,6 Persen
Dukungan meliputi bantuan teknis, peningkatan kapasitas, dan investasi modal untuk mendukung target Net Zero Emission sektor energi pada 2060 serta peta jalan Just Energy Transition Partnership (JETP).
Kolaborasi ini juga meliputi perdagangan dan investasi di sektor industri hijau, penyelesaian perundingan I-EU CEPA, serta peluang investasi pada ekosistem kendaraan listrik, industri semikonduktor, pengolahan mineral penting, dan jaringan listrik pintar (smart grid).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 5Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









