Sawit Berpotensi Jadi Pilar Energi Terbarukan Indonesia

AKURAT.CO Kelapa sawit dinilai memiliki potensi besar menjadi salah satu pilar energi nasional karena ketersediaan bahan baku yang melimpah dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis bioenergi.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO), M Hadi Nainggolan, mengatakan, hampir seluruh bagian tanaman kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk pengembangan energi terbarukan, mulai dari crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel hingga biomassa berupa tandan kosong, cangkang, dan batang sawit.
Luas perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai sekitar 16,8 juta hektare dengan potensi produksi biomassa sekitar 272 juta ton per tahun.
“Jadi, kelapa sawit kita ini bisa menjadi pilar untuk kekuatan energi nasional. Indonesia bisa menjadi negara nomor satu di dunia yang menghasilkan energi berbasis kekayaan hayati,” kata Hadi di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Hadi, bioenergi berbasis kelapa sawit memiliki prospek besar karena didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah dan sifat tanaman yang dapat diperbarui. Produksi biomassa sawit juga relatif stabil sepanjang tahun.
Ia mengatakan biomassa kelapa sawit telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada sejumlah pembangkit listrik di Indonesia.
Ketersediaan pasokan menjadi salah satu faktor yang mendorong pemanfaatannya sebagai sumber energi.
“Kata kuncinya adalah kelapa sawit ini akan menjadi sumber kekuatan energi hayati dengan didukung oleh 16,8 juta hektare perkebunan kelapa sawit,” ujarnya.
Optimalisasi potensi sawit untuk bioenergi juga dilakukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui program Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI).
Program tersebut mendorong riset dan inovasi untuk menghasilkan nilai tambah komoditas sawit, termasuk di sektor energi terbarukan.
Hadi mengatakan pengembangan bioenergi sawit dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil, menekan emisi gas rumah kaca, memitigasi pemanasan global, serta memperbaiki neraca perdagangan minyak dan gas.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, implementasi program biodiesel selama 2015-2025 menghasilkan penghematan devisa Rp722,9 triliun dan nilai tambah Rp114,7 triliun melalui pengolahan CPO menjadi biodiesel.
Program tersebut juga mendukung penyerapan tenaga kerja hingga 10,9 juta orang di sektor sawit dan berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 228,41 juta ton CO₂.
Baca Juga: Promo Traveling Danamon Travel Fair: Diskon hingga Rp23 Juta untuk Liburan dan Perjalanan Ibadah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









