Perhapi: Biodiesel B50 Berpotensi Naikkan Biaya Operasional Tambang

AKURAT.CO Implementasi Program Mandatori Biodiesel B50 yang mulai berlaku pada Juli 2026 dinilai berpotensi meningkatkan biaya operasional industri pertambangan.
Pelaku usaha tambang memperkirakan penggunaan campuran biodiesel dengan kandungan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang lebih tinggi akan berdampak pada performa alat berat, biaya perawatan, hingga konsumsi bahan bakar.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Sudirman Widhy Hartono mengatakan, dampak implementasi B50 memang belum dapat dievaluasi secara menyeluruh karena kebijakan tersebut baru berjalan.
Namun, pengalaman penggunaan biodiesel sejak B10 hingga B40 menunjukkan adanya konsekuensi teknis terhadap operasional alat berat di sektor pertambangan.
“Implementasi B50 baru saja dimulai pada bulan Juli-2026 ini, sehingga memang belum dapat dilihat bagaimana evaluasi hasil penggunaan bahan bakar B50 ini pada kendaraan dan alat berat pertambangan,” kata Sudirman kepada Akurat.co, Senin (13/7/2026).
Sudirman menjelaskan, berdasarkan evaluasi penggunaan B40, pelaku usaha tambang mulai merasakan peningkatan biaya pemeliharaan alat berat sekaligus penurunan performa mesin.
Hal tersebut dipengaruhi karakteristik FAME yang bersifat higroskopis atau mudah menyerap air, sehingga berpotensi mempercepat kerusakan injektor bahan bakar dan membuat filter bahan bakar lebih cepat kotor.
Dengan meningkatnya porsi FAME menjadi 50% pada B50, ia memperkirakan dampak tersebut akan semakin besar karena mayoritas alat berat pertambangan pada dasarnya tidak dirancang menggunakan biodiesel dengan kandungan FAME yang tinggi.
“Dengan adanya dampak tersebut, tentunya akan semakin meningkatkan biaya perawatan dari peralatan berat tsb yang berarti akan meningkatkan biaya operasional tambang,” ujarnya.
Mengacu pada pengalaman transisi dari B35 ke B40 pada 2025, biaya pemeliharaan dan perbaikan alat berat meningkat sekitar 17%.
Pada transisi menuju B50, Perhapi memperkirakan biaya maintenance dan repair masih akan bertambah sekitar 5% hingga 10%.
Baca Juga: Prabowo: Peresmian 5 Bendungan dan B50 Jadi Bukti Kerja Keras Menuju Indonesia Makmur
“Yang jelas penggunaan biodiesel ini pada kenyataannya sedikit banyak berdampak kepada penurunan produktivitas peralatan tambang yang kemudian juga akan membuat produktivitas operasional menurun yang artinya ada potensi penurunan produksi dari industry tambang secara umum,” tutur Sudirman.
Sudirman juga menyoroti sifat higroskopis biodiesel yang membuat bahan bakar lebih mudah menyerap kelembapan dari udara.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan kandungan air di dalam tangki, memicu korosi pada komponen mesin, serta mempercepat proses oksidasi yang berpotensi menumbuhkan mikroorganisme di dalam bahan bakar.
Selain itu, biodiesel memiliki sifat sebagai pelarut yang kuat sehingga endapan kotoran yang menempel pada tangki dan jalur pipa bahan bakar dapat terlepas dan menyumbat filter bahan bakar lebih cepat dibandingkan penggunaan solar konvensional.
Perhapi juga mengutip hasil uji coba yang dilaporkan Asosiasi Profesi dan Praktisi Alat Berat Indonesia (Aspindo), yang menunjukkan konsumsi bahan bakar B50 diperkirakan lebih boros sekitar 7% hingga 10% dibandingkan B40.
Padahal, biaya bahan bakar menyumbang sekitar 30% hingga 35% dari total biaya operasional perusahaan tambang.
“Peningkatan biaya penggunaan bahan bakar tentunya juga akan semakin memberatkan industry tambang,” ucapnya.
Sebagai alternatif, Sudirman kembali mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penggunaan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) sebagai pengganti FAME dalam campuran biodiesel.
Menurutnya, meski biaya produksi HVO lebih tinggi, bahan bakar tersebut memiliki karakteristik yang lebih menyerupai solar fosil, tidak mudah menyerap air, serta dinilai lebih aman bagi performa dan umur pakai mesin alat berat.
"Tidak seperti FAME, sifat Higroskopis pada HVO juga sangat rendah atau hamper tidak menyerap air,” pungkas Sudirman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








