Denny JA: Muncul Kelas Sosial Baru di Era Digital, Jutaan Pekerja Rentan Dikendalikan Algoritma

AKURAT.CO Pendiri LSI, Denny JA, menilai Indonesia tengah memasuki babak baru perubahan sosial akibat pesatnya perkembangan ekonomi digital.
Ia menyebut telah muncul cikal bakal kelas sosial baru yang disebut Digitally Vulnerable Class (DVC) atau kelompok pekerja digital yang rentan.
Gagasan tersebut disampaikan Denny JA dalam esainya berjudul Datangnya Kapitalisme Algoritma dan Cikal Bakal Lahirnya Kelas Baru: Pekerja Digital yang Rentan (DVC) yang dipublikasikan melalui akun Facebook Denny JA’s World.
Menurut Denny JA, dunia kini memasuki fase baru kapitalisme yang berbeda dari kapitalisme industri abad ke-19 maupun kapitalisme finansial abad ke-20.
Ia menyebut fase tersebut sebagai kapitalisme algoritma, yakni sistem ekonomi yang bertumpu pada data dan algoritma.
“Jika kapitalisme industri bertumpu pada mesin dan kapitalisme finansial bertumpu pada modal, maka kapitalisme algoritma bertumpu pada data dan algoritma,” ujarnya, Minggu (14/6/2026).
Dalam sistem tersebut, algoritma tidak lagi sekadar alat bantu teknologi, melainkan turut menentukan akses seseorang terhadap pekerjaan, pendapatan, reputasi, hingga peluang ekonomi.
Fenomena itu, kata Denny JA, kini dialami jutaan pekerja platform digital seperti pengemudi ojek online, kurir, freelancer, kreator konten, hingga pedagang daring yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada platform digital.
Berdasarkan berbagai estimasi, jumlah pekerja platform digital di Indonesia mencapai sekitar 4 juta orang, sementara pekerja dalam ekosistem ekonomi digital secara keseluruhan telah mencapai puluhan juta orang.
Baca Juga: Notarace 2026 Jadi Puncak Perayaan HUT ke-118 Ikatan Notaris Indonesia
Denny JA menilai perkembangan tersebut melahirkan bentuk kerentanan baru yang belum pernah dikenal sebelumnya.
“Seorang pengemudi ojek online bisa kehilangan penghasilan hanya karena satu notifikasi aplikasi. Ia tidak dipecat manusia, tetapi dihentikan oleh algoritma,” katanya.
Menurutnya, DVC berbeda dengan konsep proletariat yang diperkenalkan Karl Marx maupun precariat yang dikemukakan oleh Guy Standing.
Jika proletariat bergantung pada pemilik pabrik dan precariat bergantung pada pasar kerja yang tidak stabil, maka DVC bergantung pada algoritma dan platform digital.
“Jika pasar menentukan nasib precariat, maka algoritma menentukan nasib DVC,” ujar Denny JA.
Ia mengidentifikasi tiga karakteristik utama kelompok DVC. Pertama, kerentanan algoritmik, di mana pendapatan, reputasi, hingga keberlangsungan pekerjaan dapat berubah akibat keputusan sistem digital yang tidak transparan.
Kedua, identitas kolektif digital, yakni terbentuknya solidaritas di antara pekerja digital melalui aplikasi, media sosial, dan komunitas daring meski mereka tidak bekerja di tempat yang sama.
Ketiga, kerawanan harapan, ketika pekerja digital menggantungkan masa depannya pada kemungkinan konten menjadi viral, peningkatan rating, atau perubahan algoritma yang dianggap dapat memperbaiki kondisi ekonomi mereka.
Meski belum dapat dikategorikan sebagai kelas sosial yang mapan, Denny JA menilai DVC merupakan kandidat terkuat lahirnya kelas sosial baru pada abad ke-21.
“Abad ke-19 melahirkan proletariat. Abad ke-20 melahirkan precariat. Abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai abad yang melahirkan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang algoritma,” ujarnya.
Karena itu, Denny JA menilai negara dan perusahaan platform digital perlu mengakui keberadaan kelompok tersebut serta mulai merancang sistem perlindungan sosial yang sesuai dengan risiko ekonomi digital.
Baca Juga: Red Fitness Gelar Anniversary Series 2026 di Tiga Cabang
Ia mencontohkan langkah Uni Eropa yang telah menerapkan Platform Work Directive untuk menjamin hak-hak pekerja digital.
Menurutnya, Indonesia juga perlu mempertimbangkan regulasi serupa agar fleksibilitas ekonomi digital tidak mengorbankan kesejahteraan jutaan pekerja.
Denny JA menutup esainya dengan menegaskan bahwa tantangan terbesar abad ke-21 bukan lagi semata hubungan antara buruh dan pemilik modal, melainkan relasi antara manusia dan teknologi yang diciptakannya sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah








