PLTA Batang Toru Dikebut, ESDM Targetkan Beroperasi Oktober 2026

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan commercial operation date (COD) Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Sumatera Utara masih ditarget pada Oktober 2026.
PLTA Batang Toru merupakan proyek yang digarap oleh PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE). Adapun, NSHE merupakan perusahaan patungan atau joint venture (JV) yang tengah membangun PLTA Batang Toru.
NSHE merupakan satu dari 28 perusahaan yang izinnya sempat dicabut pemerintah dikarenakan melanggar aturan pemanfaatan hutan.
Baca Juga: Kementerian ESDM Belum Temukan Bukti China Batalkan Kontrak Batu Bara RI
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan saat ini pemerintah tengah mengawal percepatan pembangunan infrastruktur transmisi yang menjadi salah satu faktor penentu beroperasinya pembangkit tersebut.
“PLTA itu sekarang sedang dikawal untuk transmisi. Lima tower yang roboh itu sedang dilakukan percepatan untuk pemasangannya,” kata Eniya saat ditemui di Kompleks Parlemen dikutip, Jumat (5/6/2026).
Meski masih terdapat pekerjaan pada sisi transmisi, Eniya menegaskan target COD PLTA Batang Toru belum berubah dan tetap dijadwalkan pada Oktober tahun ini.
“COD-nya masih di Oktober, tahun ini. Semoga tepat waktu,” tambahnya.
Baca Juga: Rasio Elektrifikasi RI Capai 99,83 Persen, Kementerian ESDM Kejar Akses Listrik Merata
Diberitakan sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mempercepat penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Sumatra Utara.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, percepatan dilakukan sebagai bagian dari penguatan sistem kelistrikan nasional dan pengembangan energi baru terbarukan.
“Dalam persiapan yang ada saat ini, ada beberapa PLTA yang kita lakukan percepatan, di antaranya adalah PLTA Batang Toru. Ini kan ada 4 x 125 megawatt, berarti sekitar 500 megawatt,” kata Yuliot di Kementerian ESDM dikutip, Sabtu (30/5/2026).
Namun demikian, proses pembangunan infrastruktur pendukung proyek sempat terdampak bencana yang terjadi di Sumatra beberapa waktu lalu. Dampak tersebut menyebabkan delapan tiang transmisi harus direlokasi.
Menurut Yuliot, relokasi tiang transmisi menghadapi tantangan karena lokasi baru masuk dalam kawasan hutan.
“Jadi karena dampak dari bencana Sumatra kemarin, ini ada 8 tiang transmisi yang kita perlu lakukan relokasi. Jadi ternyata relokasi ini kan masuk di dalam kawasan hutan,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 5Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 6Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 7Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 8Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara









