Harbour Energy Resmi Lepas Blok Natuna dan Tuna ke Prime Group Senilai USD215 Juta

AKURAT.CO Harbour Energy resmi menyelesaikan penjualan kepemilikan operasionalnya di ladang produksi Blok A Laut Natuna dan proyek Blok Tuna di Indonesia kepada Prime Group dengan nilai transaksi sebesar USD215 juta.
Transaksi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat portofolio bisnis dan memfokuskan sumber daya pada aset-aset yang dinilai lebih kompetitif secara global.
Direktur Utama Unit Bisnis Indonesia Harbour Energy, Steve Cox menyebut, penjualan aset di Indonesia ini menjadi salah satu dari tiga transaksi strategis yang diumumkan perusahaan pada Desember 2025.
Baca Juga: PLN EPI Mulai Pembangunan Pipa Gas Ruas Natuna-Pemping
Steve menambahkan, langkah divestasi ini menandai tonggak strategis perusahaan dalam pengelolaan portofolio bisnis di kawasan Asia Tenggara.
“Penjualan sebagian besar aset kami di Indonesia menandai tonggak strategis bagi Harbour, menunjukkan pendekatan disiplin kami dalam mengelola portofolio dan mengikuti keluarnya kami dari Vietnam tahun lalu,” kata Steve dikutip dari laman Harbour Energy, Sabtu (30/5/2026).
Steve juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim Harbour Energy di Indonesia atas kontribusi dan kerja keras mereka dalam mengelola aset-aset tersebut selama bertahun-tahun.
“Saya berterima kasih kepada rekan-rekan kami di Indonesia atas kerja keras mereka pada aset-aset ini selama bertahun-tahun dan mendoakan yang terbaik untuk babak selanjutnya,” tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendorong PT Pertamina (Persero) untuk menggantikan Harbour Energy Group di Blok Tuna.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto mengatakan bahwa Harbour memang sudah menyatakan keinginannya untuk mengalihkan atau farm-out atas partisipasi mereka di Blok Tuna.
Sehingga, Djoko berharap PT Pertamina dapat mengantikan Harbour di Blok Tuna untuk mendampingi BUMN asal Rusia Zarubezhneft.
“Harbour keputusannya ingin mem-farm-out, keluar lah. Nah sekarang dalam proses tender-nya oleh harbour. Siapa yang akan masuk. Kita berharap ada Pertamina di situ. Ada perusahaan nasional,” kata Djoko di Komplek Parlemen Senayan dikutip, Rabu (12/11/2025).
Lebih lanjut, Djoko menyampaikan bahwa sudah ada pembicaraan dengan Pertamina terkait dengan kesempatan ini dan Djoko berharap keputusan pengganti Harbour di Blok Tuna.
“Sudah (open data)saya minta November ini selesai, selesai keputusan Harbournya setelah itu siapa ambil alih),” tutur Djoko.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







