4 Blok Migas Terminasi Aceh Diminati Investor, BPMA Targetkan PSC Tahun Ini

AKURAT.CO Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menyatakan berhasil menarik minat investor untuk mengelola blok-blok migas yang sudah habis masa kontrak atau terminasi.
Kepala BMPA, Nasri Djalal mengatakan, terdapat empat blok yang sudah mendapatkan minat dari para pelaku usaha dan bersiap untuk dilakukan joint study.
"Pencapaian penting lainnya adalah BPMA berhasil menarik minat investor terhadap seluruh blok terminasi yang ada di Aceh pada tahun ini," kata Nasri di IPA Convex 2026 di ICE BSD, Kamis (21/5/2026).
Baca Juga: Donggi Senoro LNG Operasikan Laboratorium Bersertifikasi ISO/IEC 17025:2017 Untuk Jaga Mutu
Pertama adalah blok Andaman I yang sudah dilepas oleh Repsol ada konsorsium besar asal Jepang yang berminat untuk kelola Andaman I yakni Japan Petroleum Exploration (Japex) dan Japan Oil serta Gas and Metals National Corporation (Jogmec).
Selanjutnya ada Blok Lhokseumawe yang sudah diminati oleh PT Energi Hijau Biru bersama Barakah Petroleum Malaysia pada Blok Lhokseumawe eks terminasi Zaratex.
Kemudian ada South Block A yang diminati oleh BUMD Aceh yakni PT PEMA, dan satu blok lainnya yang mulai melalui tahap joint studyu blok Meuseuraya oleh PT Putra Indo Manunggal.
Nasri menyebut sebagian besar blok tersebut masih berada pada tahap joint study. Namun BPMA menargetkan dua blok dapat masuk tahap kontrak Production Sharing Contract PSC) tahun ini, sementara dua blok lainnya menyusul pada awal 2027.
Sebagian besar masih dalam tahap joint study. Karena blok tersebut merupakan blok terminasi eksplorasi.
BPMA berharap proses joint study dapat dipercepat. Untuk JPEC/JOGMEC misalnya, mereka sudah mulai sejak Maret lalu sehingga kami targetkan sekitar November prosesnya dapat selesai.
"Target BPMA tahun ini adalah dua blok bisa langsung masuk ke tahap kontrak PSC (Production Sharing Contract). Sementara dua lainnya ditargetkan menyusul pada awal 2027," ungkap Nasrir.
Dari keempat blok tersebut blok Lhokseumawe diperkirakan menyimpan potensi cadangan paling besar dan paling siap juga untuk diteken kontrak PSC, karena kontraktor sebelumnya juga hampir menandatangani rencana pengembangan atau Plan of Development (PoD).
"Ketika terminasi dilakukan pada 2024, blok tersebut sudah berada pada tahap POD (Plan of Development), sehingga tinggal pembuktian cadangan melalui pengeboran lanjutan. Potensinya diperkirakan mencapai sekitar 900 BCF gas," ujar Nasrir.
BPMA juga tengah mendorong revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh yang nantinya dapat memperluas kewenangan lembaga tersebut hingga 200 mil laut.
“Jika revisi tersebut disahkan, maka kewenangan BPMA nantinya dapat mencapai hingga 200 mil laut,” ujarnya.
Nasri optimistis keterlibatan BPMA bersama SKK Migas akan memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu wilayah prospektif gas bumi nasional, terutama dengan munculnya temuan-temuan baru offshore seperti di wilayah Andaman yang diproyeksikan mulai berproduksi pada 2028-2029.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









