Harga Beras Naik Dua Pekan, Zona 3 Tembus Rp20 Ribu

AKURAT.CO Harga beras kembali mengalami kenaikan dalam dua pekan terakhir. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut lonjakan harga dipicu naiknya harga gabah di tingkat petani serta meningkatnya biaya distribusi pangan ke daerah.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Direktorat Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra mengatakan hasil pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) menunjukkan harga gabah kini berada di kisaran Rp7.600 hingga Rp8.000 per kilogram.
“Perlu kami laporkan, tingginya harga beras pada kurun waktu dua minggu ini disinyalir karena tingginya harga gabah di pasar,” ujar Nawandaru dalam di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Baca Juga: Hadapi El Nino, Bulog Percepat Serapan Gabah hingga Juli 2026
Kenaikan harga gabah tersebut langsung mendorong harga beras di tingkat eceran, terutama di wilayah luar sentra produksi. Selain faktor bahan baku, Kemendag juga mencatat kenaikan ongkos transportasi dan harga kemasan plastik memperbesar biaya distribusi pangan.
Data SP2KP menunjukkan harga beras medium di zona 1 masih berada di level Rp13.400 per kilogram atau sedikit di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp13.500 per kilogram. Namun, di zona 2 harga beras medium sudah mencapai Rp14.500 per kilogram atau 3,38% di atas HET.
Sementara itu, lonjakan paling tinggi terjadi di zona 3. Harga beras medium tercatat mencapai Rp17.500 per kilogram atau 13,05% di atas HET yang ditetapkan pemerintah.
Kondisi serupa juga terjadi pada beras premium. Di zona 1, harga beras premium berada di level Rp15.000 per kilogram atau 0,38% di atas HET. Di zona 2 naik menjadi Rp16.300 per kilogram atau 5,59% di atas HET.
Sedangkan di zona 3, harga beras premium menembus Rp20.000 per kilogram atau 26,49% di atas HET. Angka tersebut menjadi salah satu level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir untuk komoditas beras premium.
Baca Juga: Pemprov Jakarta Diminta Tak Gegabah Bongkar Lapangan Padel, DPRD: Tidak Semua Bermasalah
Kemendag menilai situasi ini perlu diwaspadai karena beras masih menjadi komoditas utama penyumbang inflasi nasional. Pada April 2026, komoditas beras tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,02% secara bulanan dan 0,18% secara tahunan.
Pemerintah kini mendorong optimalisasi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) guna meredam kenaikan harga di tingkat konsumen. Penyaluran beras SPHP diminta diperluas hingga ke pasar rakyat dan pengecer kecil agar intervensi harga lebih efektif.
“Kami harapkan untuk wilayah kabupaten/kota perlu juga meminta bantuan Bulog untuk mendeliver secara merata dan kontinyu,” kata Nawandaru.
Menurutnya, pola distribusi SPHP dapat mengacu pada mekanisme distribusi Minyakita yang sebelumnya melibatkan penugasan badan usaha milik negara untuk mempercepat penyaluran ke pasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T










