KTT ASEAN 2026 Bahas Diversifikasi Pasar di Tengah Konflik Timur Tengah

AKURAT.CO Indonesia mendorong ASEAN memperkuat rantai pasok, pangan, dan energi di tengah dampak krisis Timur Tengah terhadap perdagangan global.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, meminta ASEAN mempercepat penguatan jalur perdagangan dan rantai pasok kawasan di tengah meningkatnya tekanan geopolitik global, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang mulai berdampak pada stabilitas ekonomi dunia.
Dalam Joint ASEAN Foreign and Economic Ministers Meeting (AMM-AEM Meeting) di Cebu, Rabu (7/5/2026), Budi menegaskan kawasan Asia Tenggara harus tetap terbuka terhadap perdagangan internasional sekaligus memperkuat ketahanan internal agar tidak terguncang oleh krisis global.
Baca Juga: RI-Filipina Bentuk Koridor Nikel ASEAN, Kuasai 73 Persen Pasokan Global
“ASEAN perlu menunjukkan kepada komunitas bisnis dan internasional bahwa kawasan ini tetap terbuka, tangguh, dan mampu menjaga stabilitas perdagangan serta rantai pasok di tengah ketidakpastian geopolitik global,” kata Budi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Pernyataan tersebut muncul ketika tekanan terhadap perdagangan global terus meningkat. Data Dana Moneter Internasional atau IMF dalam World Economic Outlook 2026 menunjukkan volume perdagangan dunia diproyeksi melambat ke kisaran 3,1% akibat konflik geopolitik, tensi Laut Merah, serta perlambatan ekonomi negara maju.
Gangguan di jalur logistik global juga sempat meningkatkan biaya pengiriman kontainer dunia lebih dari dua kali lipat sepanjang 2024 menurut data Drewry World Container Index.
Indonesia menilai kondisi tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi negara-negara ASEAN yang selama ini bergantung pada arus perdagangan global, terutama untuk pasokan energi, pangan, dan bahan baku industri.
Dalam forum tersebut, Indonesia mendorong penguatan kerja sama ketahanan energi dan pangan ASEAN sebagai prioritas utama kawasan. Langkah itu mencakup diversifikasi sumber energi, pembangunan sistem peringatan dini atau early warning system, hingga peningkatan pertukaran data antarnegera ASEAN untuk mendeteksi potensi krisis lebih cepat.
“ASEAN harus mampu membangun solusi jangka panjang yang tidak hanya memperkuat ketahanan kawasan, tetapi juga melindungi masyarakat, khususnya petani dan UMKM, dari dampak krisis global,” ujar Budi.
Dorongan tersebut dinilai penting karena ASEAN merupakan salah satu kawasan perdagangan terbesar dunia. Berdasarkan data Sekretariat ASEAN, total perdagangan barang ASEAN mencapai lebih dari USD3,5 triliun pada 2024, dengan perdagangan intra-ASEAN berkontribusi sekitar 22% dari total nilai perdagangan kawasan.
Namun, ketergantungan ASEAN terhadap pasar eksternal masih tinggi, terutama terhadap China, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Kondisi itu membuat kawasan rentan terhadap gangguan geopolitik global maupun kebijakan proteksionisme negara besar.
Karena itu, Indonesia juga meminta percepatan ratifikasi Second Protocol to ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) guna memperkuat perdagangan intra-ASEAN. Pemerintah menilai optimalisasi perdagangan internal kawasan dapat menjadi bantalan ketika pasar global mengalami tekanan.
Selain itu, Indonesia turut mendorong percepatan penyelesaian ASEAN–Canada Free Trade Agreement (ACaFTA) dan optimalisasi Regional Comprehensive Economic Partnership atau RCEP untuk memperluas akses pasar ekspor negara-negara ASEAN.
Secara historis, ASEAN pernah menghadapi tekanan serupa saat pandemi COVID-19 pada 2020 hingga 2021. Ketika itu, gangguan rantai pasok global menyebabkan kelangkaan bahan baku industri, lonjakan harga pangan, hingga kenaikan biaya logistik internasional. Kondisi tersebut sempat menekan sektor manufaktur dan perdagangan kawasan.
Kini, tekanan baru kembali muncul seiring memanasnya konflik Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan internasional dan volatilitas harga energi dunia. Harga minyak mentah Brent sempat bergerak di atas USD80 per barel dalam beberapa pekan terakhir akibat kekhawatiran gangguan pasokan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T










