Kementerian ESDM Evaluasi Kendala Motor Listrik, dari Performa hingga Charging

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM terus mengidentifikasi berbagai tantangan dalam pengembangan kendaraan listrik, khususnya pada segmen sepeda motor listrik.
Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian Ketenagalistrikan EBTKE, Trois Dilisusendi mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan diskusi dengan sejumlah platform transportasi daring.
Termasuk Grab, Gojek, dan inDrive untuk menggali masukan terkait penggunaan motor listrik di lapangan. Menurut Trois, salah satu isu utama yang muncul adalah terkait spesifikasi teknis motor listrik, terutama dari sisi performa.
Baca Juga: Kemenperin Perkuat Industri Otomotif, TKDN Motor Listrik Jadi Fokus
“Salah satu isunya memang pertama adalah kaitan mungkin spesifikasi dari motor listriknya sendiri, isunya mungkin salah satunya, Bapak motornya gak kuat manjak. nah ini yang saya kira juga harus kita perbaiki,” kata Trois
Trois menambahkan, pemerintah tengah mempertimbangkan penerapan standar spesifikasi minimum untuk motor listrik yang mendapatkan insentif atau bantuan.
Standar ini diharapkan dapat menjamin kualitas dan performa kendaraan, tanpa membatasi merek yang beredar di pasar.
Selain itu, isu lain yang mencuat adalah belum adanya standardisasi sistem pengisian daya untuk sepeda motor listrik.
Berbeda dengan mobil listrik yang dinilai sudah memiliki standar yang lebih jelas, pengisian daya motor listrik masih beragam sehingga menyulitkan pengguna.
“Ini belum standar, untuk motor ya khususnya, jadi beda dengan mobil, saya kira mobil sudah sudah no isu, tapi di motor ini ternyata menjadi isu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Trois juga menyoroti aspek nilai ekonomi kendaraan listrik, terutama terkait nilai aset setelah digunakan.
Menurutnya, harga kendaraan listrik, baik mobil maupun motor, masih cenderung fluktuatif dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.
Hal ini dinilai menjadi salah satu pertimbangan bagi pengguna, termasuk pengemudi ojol, dalam beralih ke kendaraan listrik.
“Kemudian yang ketiga juga kaitan dengan nilai aset dari EV-nya tadi, karena once jadi konversi atau mungkin kita sudah melihat bahwa mobil EV ataupun motor EV kan relatif harganya mungkin tidak stabil,” tutur Trois.
Adapun, berdasarkan data yang dipaparkan, dari tahun 2021 sampai dengan awal tahun 2026 konversi motor listrik sudah mencapai 2.278 unit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 5Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









