Pompanisasi Jadi Andalan, Panen Petani Bisa 3 Kali Setahun

AKURAT.CO Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan percepatan program irigasi perpompaan (irpom) menjadi strategi utama pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan nasional tanpa bergantung pada ekspansi lahan baru.
Amran menyebut teknologi pengelolaan air melalui pompanisasi mampu mengubah pola tanam petani secara signifikan, terutama di lahan kering (upland).
“Kebijakan ini menjadi kunci dalam mendorong peningkatan produksi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada perluasan lahan baru,” kata Amran dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Baca Juga: Wamentan: Stok Pupuk Aman, Kebutuhan Jutaan Petani Tetap Terjaga
Di lokasi tersebut, irigasi perpompaan berkapasitas 5.000 liter telah mengairi sekitar 20 hektare lahan. Dampaknya, frekuensi panen petani meningkat dari satu kali menjadi tiga kali dalam setahun.
“Yang dulu panen satu kali, menjadi tiga kali. Kenapa? Karena pompanya sudah dipasang,” ujarnya.
Kementerian Pertanian menyiapkan anggaran hingga Rp5 triliun untuk memperluas program pompanisasi secara nasional. Program ini ditargetkan menjangkau hingga 1 juta hektare lahan.
Dengan asumsi produktivitas rata-rata 6 ton per hektare, tambahan produksi diproyeksikan mencapai 6 juta ton gabah.
“Kalau kita bisa jangkau 1 juta hektare, berarti produksi 6 ton saja, berarti kenaikan 6 juta ton gabah,” kata Amran.
Selain pompanisasi, pemerintah juga menjalankan dua strategi paralel, yakni pencetakan sawah baru dan optimalisasi lahan rawa untuk menopang produksi pangan.
“Ini sambil kita cetak sawah, juga optimalisasi lahan rawa. Jadi, ini tiga langkah kita tempuh,” ujarnya.
Baca Juga: Dukung Hilirisasi Pertanian, Mentan Segera Lapor ke Presiden Prabowo Soal Inovasi Pakan Ayam ITB
Data Kementan menunjukkan kombinasi kebijakan tersebut telah mendorong kenaikan produksi sebesar 13% atau setara 4 juta ton dalam periode terakhir.
Strategi ini muncul di tengah tekanan terhadap sektor pertanian, termasuk keterbatasan lahan dan perubahan iklim yang memengaruhi pola tanam.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat produksi padi nasional cenderung fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir, sementara kebutuhan beras domestik terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.
Dalam konteks tersebut, pendekatan intensifikasi seperti Luas Tambah Tanam (LTT) menjadi krusial. Skema ini menitikberatkan pada peningkatan frekuensi tanam dalam lahan yang sama, bukan ekspansi lahan baru.
“Ini namanya Luas Tambah Tanam (LTT). Jadi, lahan tetap, tapi luas tanamnya yang bertambah. Bisa potensi tiga kali tanam dalam satu hektare,” kata Amran.
Jika LTT diperluas hingga 2 juta hektare, tambahan produksi diproyeksikan mencapai 12 juta ton gabah atau setara sekitar 6 juta ton beras.
Peningkatan produksi melalui pompanisasi berpotensi memperkuat pasokan domestik dan menahan tekanan harga beras yang dalam beberapa tahun terakhir cenderung volatil.
Ketersediaan air yang lebih stabil juga mengurangi risiko gagal panen, terutama di wilayah tadah hujan yang selama ini menjadi titik lemah produksi nasional.
Bagi petani, peningkatan frekuensi tanam berimplikasi langsung pada pendapatan. Sementara bagi pemerintah, tambahan produksi dapat mengurangi ketergantungan pada impor beras.
Untuk mempercepat implementasi, Kementerian Pertanian akan mengumpulkan kepala daerah yang memiliki potensi peningkatan LTT dalam waktu dekat.
“Yang butuh pompa, Insya Allah hari Senin kami putuskan. Kami undang Pak Bupati ke Jakarta. Dananya sudah siap. Ini perintah Bapak Presiden,” kata Amran.
Langkah ini menjadi bagian dari konsolidasi nasional untuk memastikan kesiapan infrastruktur air di daerah, sekaligus mempercepat realisasi target produksi dalam waktu singkat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang










