Target 2029, DPR Dorong Indonesia Lepas dari Impor Bawang Putih

AKURAT.CO Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh, menyatakan pemerintah menargetkan swasembada bawang putih dapat tercapai pada 2029.
Untuk mewujudkan target tersebut, Indonesia perlu menutup kekurangan produksi sekitar 660 ribu ton dari kondisi saat ini.
Menurut Rahmat, pengembangan bawang putih nasional masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dari sisi lahan.
Dari kebutuhan sekitar 100 ribu hektare, baru sekitar 2.500 hektare yang mendapatkan dukungan subsidi bibit.
Ia menjelaskan, produksi dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 10–15 persen kebutuhan nasional, yakni sekitar 40 ribu ton dari total kebutuhan yang mencapai 700 ribu ton per tahun.
Kondisi ini menunjukkan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih.
“Di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu, ketahanan pangan menjadi sangat penting agar Indonesia tidak rentan terhadap gangguan pasokan,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Rahmat menilai, salah satu kunci peningkatan produksi adalah penguatan sektor hulu, khususnya ketersediaan bibit unggul.
Selain itu, diperlukan sistem distribusi yang efisien serta dukungan kelembagaan yang kuat agar usaha tani bawang putih berkelanjutan.
“Kita butuh sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem pembenihan yang tangguh,” tegasnya.
Baca Juga: Pramono Dorong Perluasan Layanan Air Bersih, SPAM Jadi Prioritas Kebijakan
Sebelumnya, Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan ke Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur, untuk berdiskusi dengan petani dan pemerintah daerah terkait pengembangan bawang putih sebagai bagian dari target swasembada pangan nasional.
Dalam kunjungan tersebut, Desa Sumbersuko menjadi salah satu wilayah yang diprioritaskan untuk pengembangan.
Komisi IV DPR RI berkomitmen memberikan dukungan, mulai dari perbaikan infrastruktur hingga penyediaan sarana produksi.
“Dukungan meliputi perbaikan jalan usaha tani, ketersediaan pupuk, hingga kepastian harga. Kita ingin kehadiran negara benar-benar dirasakan petani,” ujar Rahmat.
Ia juga meminta pemerintah desa dan kelompok tani segera melengkapi persyaratan administrasi agar program dukungan dapat direalisasikan.
Berdasarkan pendataan sementara, terdapat sekitar 12 kelompok tani dengan rata-rata luas lahan sekitar 12 hektare per kelompok yang siap dikembangkan.
Potensi ini dinilai strategis untuk meningkatkan produksi secara bertahap.
Meski demikian, Rahmat mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama keterbatasan lahan dan kebutuhan perencanaan yang matang, mulai dari pola tanam hingga penganggaran.
Ia menegaskan, penguatan sektor pembenihan tidak hanya penting untuk bawang putih, tetapi juga komoditas pangan lainnya sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional.
“Upaya ini bukan hanya untuk mengurangi impor, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ekonomi daerah,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat










