Perang AS-Iran, Wamentan: Cadangan Beras Cukup Untuk 324 Hari

AKURAT.CO Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat Perang Iran–Amerika Serikat (AS), pemerintah memastikan kondisi stok pangan nasional tetap aman.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menegaskan, bahwa ketahanan pangan Indonesia masih berada pada level yang terkendali, didukung oleh produksi domestik yang stabil serta cadangan beras nasional yang cukup besar.
Pemerintah menyebutkan stok beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 3,7 juta ton, ditambah cadangan dari sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) serta potensi produksi dari tanaman yang masih berada di lahan pertanian.
Baca Juga: Wamentan: Pertanian RI Siap Jadi Motor Ekonomi Global
Dengan total cadangan tersebut, Indonesia diperkirakan memiliki ketahanan pangan hingga 324 hari ke depan.
Situasi ini dinilai penting mengingat konflik geopolitik sering kali memicu gangguan rantai pasok global, lonjakan harga pangan, hingga krisis distribusi di berbagai negara.
Ketahanan Pangan RI Dinilai Masih Stabil
Sudaryono menyampaikan bahwa hingga saat ini situasi pangan nasional masih terkendali, meski dunia tengah menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik.
“Sejauh ini pangan aman. Kita sudah swasembada. Kemudian produktivitas kita oke. Intinya pangan ini menjadi pilar yang penting di situasi sulit. Situasi aman saja penting apalagi di situasi sulit,” ujar Sudaryono di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Dirinya menambahkan, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk memastikan stok pangan tetap stabil, termasuk melalui penguatan produksi domestik dan pengelolaan cadangan nasional.
“Kita stok aman, jadi saya kira sejauh ini tidak ada masalah,” kata Sudaryono.
Ketahanan pangan menjadi faktor krusial dalam situasi global yang tidak menentu, karena sektor pangan berperan sebagai penyangga stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Walaupun sebagian besar kebutuhan pangan dipenuhi dari produksi dalam negeri, pemerintah mengakui masih terdapat beberapa komoditas strategis yang bergantung pada impor, salah satunya gandum.
Sudaryono menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber impor guna menghindari risiko gangguan pasokan akibat konflik global.
“Kita diversifikasi sumber kalau yang impor. Misalnya contoh yang impor besar yakni gandum di mana kita tidak bisa produksi,” ujar Sudaryono.
Dirinya mencontohkan bahwa Amerika Serikat menjadi salah satu pemasok utama gandum, dan jalur distribusi dari negara tersebut hingga kini tidak terdampak langsung oleh konflik Iran–AS.
“Sumbernya untuk impor gandum banyak, salah satunya Amerika Serikat. Amerika jalurnya tidak terkena dampak dari perang. Saya kira sampai sejauh ini kita melihat tidak ada kendala yang berarti,” jelasnya.
Strategi diversifikasi ini menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara pemasok, sekaligus menjaga stabilitas harga pangan di dalam negeri.
Cadangan Beras Dipastikan Cukup
Sementara itu, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman menegaskan, bahwa cadangan pangan nasional berada dalam kondisi aman sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi krisis pangan.
Menurut Amran, penghitungan cadangan pangan nasional berasal dari beberapa sumber, termasuk stok beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog, cadangan pangan di sektor horeka, serta potensi produksi dari tanaman yang masih berada di lahan pertanian.
Dirinya menyebutkan stok beras di gudang Bulog saat ini mencapai sekitar 3,7 juta ton. Selain itu, terdapat cadangan di sektor hotel, restoran, dan kafe yang diperkirakan lebih dari 12 juta ton.
Di sisi lain, potensi produksi dari standing crop atau tanaman yang sedang tumbuh di lahan pertanian diperkirakan mencapai sekitar 10–11 juta ton.
Dengan total cadangan tersebut, Amran menyatakan bahwa ketersediaan pangan nasional diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga sekitar 324 hari ke depan.
Pemerintah juga menekankan bahwa stabilitas pangan tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada pengelolaan distribusi dan cadangan strategis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 5Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 6Prediksi Skor Bayern vs Arsenal 22 Oktober 2026: Duel Produktivitas dan Pertahanan
- 7Polemik Ijazah Gibran Memanas, Hasan Nasbi Ungkap Sikap Pemerintah
- 8Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja







