Harga Pangan Mulai Stabil, Bapanas Klaim IPH Februari 2026 Membaik

AKURAT.CO Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengintensifkan pemantauan harga pangan pokok strategis selama Ramadhan 1447 Hijriah dengan turun langsung ke pasar induk dan pasar turunan.
Pemerintah memastikan harga di tingkat konsumen masih berada dalam koridor Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP).
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan hasil peninjauan lapangan menunjukkan harga relatif stabil.
Baca Juga: Nakal! Bapanas Minta Satgas Telusuri MinyaKita Dijual di Atas HET
“Ini dilakukan untuk menjamin stabilitas harga di level konsumen akhir, mengingat pasar-pasar menjadi tumpuan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan harian,” kata Ketut dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
Berdasarkan peninjauan di Pasar Senen dan Pasar Gondangdia, Jakarta, harga komoditas utama tercatat sebagai berikut:
Daging sapi: maksimal Rp140.000/kg
Daging ayam ras: Rp39.000–Rp40.000/kg
Telur ayam ras: Rp30.000–Rp31.000/kg
Bawang merah: Rp42.000–Rp43.000/kg
Bawang putih: Rp38.000–Rp39.000/kg
Cabai rawit merah: turun menjadi Rp100.000/kg
Beras medium: Rp12.000–Rp12.500/kg
Ketut menegaskan harga tersebut masih dalam batas kewajaran kebijakan pemerintah.
“Mudah-mudahan ini bisa bertahan harganya sehingga ke depan masyarakat juga lebih nyaman untuk memperoleh barang-barang yang wajar, khususnya untuk pangan,” ujarnya.
Indeks Perkembangan Harga (IPH) Februari 2026
Data IPH hingga minggu ketiga Februari 2026 menunjukkan perbaikan signifikan dibanding bulan sebelumnya. Jumlah daerah yang mencatat penurunan IPH meningkat di sejumlah komoditas:
Bawang merah: 232 kabupaten/kota
Minyak goreng: 207 kabupaten/kota
Telur ayam ras: 171 kabupaten/kota (sebelumnya 129)
Cabai merah: 145 kabupaten/kota
Bawang putih: 138 kabupaten/kota (sebelumnya 65)
Daging ayam ras: 88 kabupaten/kota
Cabai rawit: 81 kabupaten/kota
Beras: 79 kabupaten/kota
Gula pasir: 49 kabupaten/kota
Daging sapi: 22 kabupaten/kota
Menurut Bapanas, peningkatan jumlah daerah dengan IPH menurun menunjukkan volatilitas harga masih terkendali dan intervensi pemerintah berjalan efektif.
Secara historis, periode Ramadhan hingga Idul Fitri selalu diikuti kenaikan permintaan pangan, terutama daging, telur, cabai, dan minyak goreng. Lonjakan konsumsi kerap mendorong kenaikan harga di pasar tradisional.
Baca Juga: Beras SPHP di NTB Dioplos, Bapanas Perketat Pengawasan Distribusi
Bapanas menyebut sebagian fluktuasi yang melebihi HET dan HAP disebabkan perilaku spekulatif di tingkat pengecer.
“Ini kerap terjadi karena untuk persiapan Hari Raya Idul Fitri mendatang. Hal ini menjadi temuan Satgas Saber Pelanggaran Pangan,” kata Ketut.
Dirinya menegaskan pasokan nasional dalam kondisi memadai sehingga tidak ada alasan untuk kenaikan harga yang berlebihan.
“Tidak bisa kita biarkan gejolak harga begitu drastis, bebas, sementara pasokannya bagus. Tidak ada alasan menaikkan harga dengan brutal,” tegasnya.
Sebagai contoh, harga ayam hidup di tingkat peternak masih Rp22.000–Rp23.000/kg. Dengan harga eceran Rp40.000/kg, margin dinilai masih dalam batas wajar.
Stabilitas harga pangan menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli rumah tangga selama Ramadhan. Komoditas pangan memiliki bobot besar dalam pembentukan inflasi, sehingga pengendalian harga berpengaruh langsung terhadap stabilitas ekonomi makro.
Pengawasan intensif juga menjadi sinyal kepada pelaku usaha agar mematuhi kebijakan harga pemerintah.
Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta Satgas Pangan Polri menindak tegas pelaku usaha yang menyebabkan anomali harga di momentum Ramadhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










