Akurat

Mentan Amran: Produksi CPO 2025 Tembus 46,55 Juta Ton

Esha Tri Wahyuni | 1 Maret 2026, 16:30 WIB
Mentan Amran: Produksi CPO 2025 Tembus 46,55 Juta Ton
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman

AKURAT.CO Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan) mempercepat strategi hilirisasi kelapa sawit menyusul kenaikan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) nasional yang pada 2025 (angka sementara) mencapai 46,55 juta ton.

Kebijakan ini difokuskan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan, sawit merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional.

“Kelapa sawit merupakan salah satu kekuatan besar Indonesia. Produktivitasnya tinggi, efisien dalam penggunaan lahan, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat dari desa hingga industri besar,” ujar Amran dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (1/3/2026).

Baca Juga: Gandeng KAMMI, Kementan Fokuskan Regenerasi Petani

Menurutnya, dengan produktivitas yang lebih tinggi dibanding minyak nabati lain, sawit layak disebut sebagai komoditas strategis nasional.

“Inilah yang membuat sawit layak disebut miracle crop,” kata Amran.

Berdasarkan publikasi statistik Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan, luas areal sawit Indonesia pada 2024–2025 (angka sementara) mencapai 16,83 juta hektare.

Pada 2024, produksi CPO tercatat 45,44 juta ton dengan produktivitas rata-rata 3,5 ton per hektare. Empat provinsi menjadi kontributor terbesar, yaitu Riau: 9,14 juta ton, Kalimantan Tengah: 7,46 juta ton, Kalimantan Barat: 4,96 juta ton, Kalimantan Timur: 3,90 juta ton.

Memasuki 2025 (angka sementara), produksi naik menjadi 46,55 juta ton dengan produktivitas rata-rata 3,6 ton per hektare. Riau tetap menjadi produsen terbesar dengan 9,46 juta ton, diikuti Kalimantan Tengah 7,59 juta ton, Kalimantan Barat 4,94 juta ton, dan Kalimantan Timur 4,29 juta ton.

Dari sisi perdagangan, volume ekspor sawit Indonesia pada 2024 mencapai 32,34 juta ton dengan nilai USD22,85 miliar. Pada 2025, ekspor meningkat menjadi 36,37 juta ton senilai USD28,50 miliar.

Baca Juga: Kementan Taksir Cabai Rawit Surplus 99 Ribu Ton di Maret 2026, Cabai Besar Surplus 11 Ribu Ton

Kenaikan ini memperkuat kontribusi sawit terhadap neraca perdagangan dan devisa negara.

Indonesia telah lama menjadi produsen sawit terbesar dunia. Data historis Kementan menunjukkan tren ekspansi areal dan produksi yang konsisten dalam satu dekade terakhir.

Di tengah tekanan global terkait isu keberlanjutan dan kebijakan dagang negara mitra, pemerintah kini menggeser fokus dari ekspor bahan mentah menuju pengembangan produk turunan bernilai tambah.

Plt Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Abdul Roni Angkat, menekankan pentingnya transformasi tersebut.

“Hilirisasi menjadi strategi penting agar sawit tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Dengan begitu, manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih luas oleh pekebun, pelaku usaha, dan masyarakat,” ujar Roni.

Dirinya menambahkan produktivitas minyak sawit per hektare jauh lebih tinggi dibanding komoditas minyak nabati lain, sehingga efisien dari sisi penggunaan lahan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.