Dari Hunian ke Pusat Ekonomi: PIK 2 Jadi Contoh Kekuatan Sektor Properti

AKURAT.CO Sektor properti dinilai masih menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan dan pemerataan ekonomi nasional, sepanjang pengelolaannya dilakukan secara inklusif dan tidak bersifat monopolistik.
Pengamat ekonomi, Agus Trihatmoko, mengatakan pembangunan perumahan memiliki efek berganda (multiplier effect) yang luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga penguatan rantai pasok bahan bangunan lokal.
“Dampak terhadap pemerataan dan pertumbuhan ekonomi bisa sangat signifikan dari program sektor properti, sepanjang manajemen pembangunannya inklusif. Artinya, tidak sentralistik dan tidak monopolistik, serta melibatkan banyak pelaku usaha,” ujar Agus dalam keterangannya, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, partisipasi pelaku usaha lokal—mulai dari penyedia material, pengrajin bahan tradisional, hingga kontraktor daerah—menjadi kunci agar manfaat pembangunan tidak terpusat pada satu kelompok saja.
Agus menilai pola pembangunan juga perlu disesuaikan dengan karakter wilayah. Di pedesaan dan kawasan pesisir, misalnya, pendekatan klaster atau kompleks perumahan besar tidak selalu relevan.
“Di desa atau wilayah pesisir, perlu mempertimbangkan lokasi lahan dan kedekatannya dengan pusat aktivitas ekonomi warga. Bisa jadi modelnya bukan kompleks besar, melainkan beberapa unit rumah di titik strategis dekat wilayah kerja penghuninya,” jelasnya.
Sebaliknya, di kota besar, kebutuhan hunian vertikal seperti rumah susun atau unit apartemen di dalam kompleks dinilai lebih sesuai dengan keterbatasan lahan dan struktur ekonomi perkotaan.
Baca Juga: Steven Kusumo Dapat Penghargaan Fortune Indonesia 40 Under 40 2026
PIK 2 dan Potensi Penggerak Ekonomi
Agus menilai, pengembangan kawasan seperti Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) dapat menjadi contoh bagaimana sektor perumahan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan secara terintegrasi.
Menurutnya, pengembangan kawasan hunian terpadu yang disertai fasilitas komersial, infrastruktur, dan konektivitas dapat menciptakan pusat-pusat ekonomi baru.
“Proyek skala besar menunjukkan bahwa sektor perumahan tidak hanya membangun rumah, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi—dari UMKM, jasa konstruksi, hingga sektor perdagangan dan layanan,” katanya.
Namun, ia mengingatkan agar pengembang tetap membuka ruang kolaborasi dengan pelaku usaha lokal dan memastikan dampak ekonominya menjangkau masyarakat sekitar.
Terkait dampak terhadap lapangan kerja, Agus menegaskan bahwa sektor perumahan memiliki kontribusi besar baik secara langsung maupun tidak langsung.
“Proses pembangunan menyerap tenaga kerja langsung, mulai dari manajemen proyek, administrasi, hingga pekerja konstruksi. Secara tidak langsung, rantai pasok seperti produsen semen, baja, kayu, transportasi, hingga jasa logistik juga terdampak,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa secara estimatif, setiap unit rumah dapat dihitung kontribusinya terhadap jumlah tenaga kerja langsung dan tidak langsung dalam satu proyek di lokasi tertentu.
Dengan karakter padat karya dan melibatkan banyak sektor turunan, Agus menilai properti masih relevan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional, terutama dalam mendorong pertumbuhan kawasan baru dan pemerataan pembangunan.
“Jika dirancang dengan pendekatan inklusif dan berbasis potensi lokal, sektor perumahan bukan hanya soal bangunan fisik, tetapi instrumen strategis pemerataan ekonomi,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 4Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo







