IGS: Percepatan Infrastruktur dan Regulasi Kunci Sektor Gas

AKURAT.CO Ketahanan energi berbasis gas di Indonesia membutuhkan eksekusi cepat pada pembangunan infrastruktur serta kepastian regulasi. Hal itu ditegaskan Indonesian Gas Society (IGS) dalam peluncuran White Paper 2025 yang digelar di Jakarta, Rabu (17/9/2025).
Dalam dokumen tersebut, IGS merekomendasikan percepatan pembangunan infrastruktur gas melalui skema public-private partnership (PPP) yang lebih kuat, penyelarasan tujuan pengadaan LNG, serta penyederhanaan perizinan dengan sistem single-window licensing.
Wakil Ketua Umum Bidang Advokasi dan Industri ALB Kadin Indonesia, Achmad Wijadja menjelaskan bahwa dunia usaha berharap pemerintah lebih konsisten dalam memberikan kepastian regulasi.
“Investasi sektor gas memerlukan kepastian jangka panjang. Tanpa regulasi yang stabil dan infrastruktur yang memadai, industri bisa kesulitan mengakses energi dengan harga kompetitif,” ujarnya.
Baca Juga: Dukung Transisi Energi, CGAS Bangun LNG Station di Karawang
Lebih lanjut dirinya menambahkan, kepastian regulasi juga akan meningkatkan minat investor untuk terlibat dalam pembangunan infrastruktur gas.
“Kita butuh skema yang bankable agar proyek pipa, terminal LNG, hingga teknologi rendah karbon bisa berjalan sesuai target,” kata Achmad.
Seperti yang diketahui, proyek pipa Dumai–Sei Mangkei yang dijadwalkan beroperasi pada 2027 menjadi salah satu prioritas. Namun, potensi bottleneck di jalur Belawan harus diantisipasi agar distribusi gas Andaman tidak terganggu.
Di sisi lain, kapasitas regasifikasi diperkirakan akan kurang mulai pertengahan 2030-an. Terminal LNG di Jawa Barat diproyeksikan beroperasi mendekati 100% utilisasi, sementara terminal Teluk Lamong yang ditargetkan selesai 2025 belum mampu menampung lonjakan permintaan.
Konteks kebijakan harga juga menjadi sorotan. Regulasi harga gas untuk sektor listrik dan industri yang diperpanjang hingga 2029 dinilai belum cukup memberi kepastian jangka panjang, terutama jika harga LNG internasional naik.
Baca Juga: Freeport Siapkan Transisi Energi, Rencanakan Ganti PLTU Batu Bara dengan LNG
“Regulasi dan infrastruktur adalah kunci. Tanpa itu, sulit menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik yang terus meningkat dengan pasokan yang terbatas,” tulis isi White Paper 2025 tersebut.
IGS juga menekankan inovasi teknologi rendah karbon, termasuk pengembangan biomethane, CCS/CCUS, hidrogen, dan blue ammonia, sebagai solusi taktis untuk mendukung dekarbonisasi sektor energi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









