Konflik Iran-AS Meluas, Dunia Hadapi Krisis Energi dan Ketidakpastian Ekonomi

AKURAT.CO Ketegangan geopolitik yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran bukan hanya memanaskan kawasan Timur Tengah, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi global yang selama ini rapuh.
Serangan udara besar-besaran yang dilakukan Washington terhadap fasilitas nuklir Iran menandai eskalasi militer paling serius dalam dua dekade terakhir dan mendorong lonjakan harga minyak hingga hampir 6%.
Mengutip dari laman bloomberg, pasar merespons cepat, di saat bursa Asia dibuka pada Senin (23/6/2025) pagi, harga minyak mentah melonjak mendekati USD100 per barel, sementara indeks saham global tergelincir. Bitcoin, yang selama ini dianggap sebagai aset lindung nilai, turut melemah hingga di bawah USD100.000.
Kondisi ini terjadi di tengah proyeksi pertumbuhan global yang telah direvisi turun oleh berbagai lembaga internasional seperti IMF dan OECD.
Baca Juga: Reduksi Pertumbuhan Ekonomi Proyeksi OECD
“Konflik yang meluas meningkatkan risiko lonjakan harga minyak dan mendorong inflasi,” tulis analis Bloomberg Economics, Ziad Daoud.
Lonjakan harga energi diprediksi menjadi ancaman nyata bagi negara-negara berkembang yang masih berjuang memulihkan diri dari dampak pandemi dan ketegangan perdagangan global.
Indonesia, misalnya, harus bersiap menghadapi tekanan fiskal akibat subsidi energi yang bisa membengkak.
Potensi gangguan pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz semakin memperkuat ketakutan pasar.
Dua kapal supertanker dilaporkan membatalkan pelayaran ke Teluk Persia. Yunani, sebagai pemilik armada tanker terbesar dunia, telah meminta operator kapal mempertimbangkan ulang rute mereka.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel Dikhawatirkan Picu Perang Dunia III, Indonesia Harus Jadi Penyeimbang
Maskapai besar seperti Singapore Airlines dan British Airways juga menangguhkan penerbangan ke wilayah Teluk. Gangguan ini tidak hanya mengganggu perdagangan, tetapi juga menambah tekanan pada rantai pasok global yang belum sepenuhnya pulih.
Para ekonom memperingatkan, jika Iran membalas dengan menutup atau mengganggu navigasi di Selat Hormuz, harga energi global bisa melambung tinggi dan mendorong inflasi dalam skala global.
Negara-negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor energi, termasuk di Asia Tenggara, akan menghadapi dampak paling berat.
Situasi ini menegaskan kembali betapa rapuhnya stabilitas ekonomi global terhadap krisis geopolitik yang terjadi di kawasan yang menjadi pusat distribusi energi dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








