Gawat! Konflik Internal OPEC+ Makin Memanas, Kazakhstan Jadi Sasaran Kemarahan Riyadh

AKURAT.CO Keputusan OPEC+ menambah pasokan minyak hingga 411.000 barel per hari pada Juni 2025 menuai sorotan tajam.
Arab Saudi disebut tengah menggunakan strategi “pemerasan” harga untuk mendisiplinkan anggota yang melanggar kuota, seperti Kazakhstan dan Irak, yang dapat menggoyahkan soliditas internal kartel minyak dunia tersebut.
Usut punya usut, langkah OPEC+ untuk kembali menambah produksi minyak mentah global pada Juni 2025 merupakan sinyal jelas adanya dinamika internal yang kian memanas.
Dikutip dari laman reuters, Arab Saudi dan Rusia, dua pemain utama dalam aliansi OPEC+, memilih menaikkan suplai demi menekan harga strategi yang menurut analis energi ditujukan sebagai bentuk hukuman terhadap negara-negara anggota yang kerap membandel dalam mematuhi kuota produksi.
Baca Juga: OPEC Optimistis Permintaan Minyak Dunia Akan Terus Meningkat
Salah satu negara yang menjadi sorotan utama adalah Kazakhstan, yang pada Maret 2025 lalu tercatat melampaui kuota OPEC+ sebesar 422.000 barel per hari.
Tidak hanya Kazakhstan, Irak juga tak luput dari tudingan sebagai pelanggar disiplin kuota. Ketidakpatuhan tersebut dinilai dapat mengganggu upaya pengendalian harga minyak dan keseimbangan pasar global.
“Arab Saudi tampaknya lelah memberikan peringatan. Sekarang mereka menggunakan harga sebagai senjata,” ujar analis energi dari Rystad Energy, Jorge Leon.
Menurut Leon, langkah ini tidak hanya ditujukan sebagai sanksi internal, tapi juga mencerminkan perubahan besar dalam posisi geopolitik Riyadh.
Keputusan drastis ini dikhawatirkan dapat menimbulkan ketegangan berkepanjangan dalam tubuh OPEC+, yang sebelumnya dikenal solid dalam mengatur keseimbangan pasokan.
Analis menyebut, kebijakan berbasis hukuman harga berpotensi memicu perang kepentingan antar anggota, apalagi jika negara-negara seperti Kazakhstan tidak mampu atau tidak bersedia mengendalikan operasi perusahaan minyak asing di wilayah mereka.
Tak hanya itu, kenaikan produksi juga menekan harga minyak global yang kini mendekati level USD61 per barel di London terendah dalam empat tahun terakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Minimnya Pasokan dari Rusia dan OPEC
Situasi ini menciptakan tekanan ganda bagi produsen, termasuk Arab Saudi sendiri, yang memerlukan harga lebih dari USD90 per barel untuk menyeimbangkan anggaran negara.
Di tengah ancaman perang tarif global dan permintaan melemah dari China, banyak pihak mempertanyakan efektivitas strategi baru ini.
Beberapa bahkan menyebutnya sebagai perjudian geopolitik yang mampu menggoyang kestabilan pasar minyak jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










