PGN Sebut Gas Akan Langka, Bahlil: Data dari Mana? Tak Ada Impor Gas!

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membantah pernyataan Direktur Utama PT Perusahaan Negara Tbk (PGN) yang mengungkapkan bahwa akan terjadi defisit gas di Sumatra Selatan dan Jawa Barat pada 2025 hingga 20235.
"Yang bilang krisis siapa? Tanya PGN lah proyeksinya itu dari mana itu? Yang menangani tentang potensi gas itu adalah SKK Migas dan Kementerian ESDM," jelas Bahlil, dikutip Sabtu (3/5/2025).
Sebaliknya, Bahlil menilai bahwa produksi gas siap jual atau lifting gas ke depan akan mengalami kenaikan.
"Saya kemarin baru pulang dari Kalimantan mengecek 2026, 2027 lifting kita akan mulai naik.Ya 2025 ini kita belum pernah ada impor gas kok, belum ada," tegasnya.
Baca Juga: Kejar Target Lifting Migas 1 Juta Barel, Bahlil Sidak PHM dan Eni Indonesia
Sebelumnya Arief Setiawan Handoko, Direktur Utama PGN, menjelaskan proyeksi krisis pasokan pada medio tahun 2025 hingga 2035.
Menurutnya kekurangan pasokan gas bakal makin terasa di wilatah Sumatra bagian Utara dan bagian tengah pada 2028 mencapai 96 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). Hal itu lantaran produksi gas dari lapangan-lapangan yang ada, sementara penemuan cadangan gas baru masih terbatas.
"Kalau kita lihat dari 2025 sampai 2035 cenderung short gas di Sumatera bagian utara dan tengah ini turun sejak di 2028. Jadi kalau kita lihat sejak 2028 ke 2035 shortage (kekurangan) sampai ke 96 juta MMSCFD," ujar Arief beberapa waktu lalu.
Arief menambahkan, kondisi kekurangan gas akan terus terjadi hingga tahun 2035 dengan cakupan yang lebih luas dibandingkan 2028. Ia menyebut kekurangan akan dirasakan di wilayah Sumatera bagian Selatan, Jawa bagian Barat dan juga Lampung.
Baca Juga: Menteri Bahlil Tegaskan Tak Ada Revisi Target Lifting Migas 1 Juta BOPD di 2030
"Profil gas balance PGN periode 2025 sampai 2035 mengalami tren penurunan. Di sini yang akan sedikit lebih mengkhawatirkan di mana sejak 2025 short dari gas balance kita dari 2025 sampai ke 2035 itu shortage-nya semakin membesar sampai minus 513 (MMSCFD)," tukas Arief.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










