Imbas Tarif Trump, China Ngebet Jadikan RI Basis Produksi Baterai EV
Camelia Rosa | 17 Februari 2025, 17:31 WIB

AKURAT.CO Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Toto Nugroho menilai kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memberikan tarif cukup signifikan bagi produk-produk asal China membuat negara Tirai Bambu itu akhrinya sangat agresif untuk bisa masuk ke Indonesia.
Dijelaskan Toto, China sangat agresif untuk memindahkan basis produksi industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) miliknya ke Indonesia. Sehingga ekspor ke Amerika bisa dilakukan dari Indonesia.
"Itu sekarang China sangat agresif untuk bisa masuk ke Indonesia, untuk menjadikan basis kita untuk memberikan solusi baterai EV atau baterai energy storage ke Amerika," jelasnya dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi XII DPR RI di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (12/2/2025).
Toto menuturkan, Amerika Serikat memberlakukan tarif impor sekitar 40% untuk produk-produk asal China. Namun, jika diekspor dari Indonesia mungkin hanya sekitar 10%. Menurutnya, hal inipun bisa menguntungkan bagi jalur impor dari Indonesia.
"Jadi ini suatu keunggulan yang kita dapatkan kalau kita menjadikan basis baterai production bukan hanya untuk Indonesia, tapi kebutuhan untuk global termasuk untuk Amerika Serikat," urainya.
Dalam kesempatan ini, Toto juga menjelaskan mengenai roadmap pengembangan industri baterai. Menurutnya, industri baterai ini harus dikawal oleh regulasi sehinggga pengembangannya bisa secara end-to-end.
"(Jadi) tidak bisa dari baterai selnya saja dibuat regulasi, tapi waktu kita proses hilirisasi dari hulu ke hilir, itu pun harus diberikan suatu regulasi supaya memudahkan baik investasi ataupun pengembangan kita sendiri," imbuhnya.
Begitupula terkait tata kelola ekspor dan impor baterai juga harus memiliki peraturan agar baterai Indonesia bisa lebih kompetitif. Sebab ditekankannya, tata kelola daur ulang baterai merupakan suatu hal yang sangat penting lantaran beberapa teknologi yang ada di motor-motor sat ini masih berbasis lead acid sehinga sangat berbagaya untuk lingkungan.
"Kita harus membuat regulasi bagaimana mengatur supaya Indonesia secara bertahap keluar dari lead acid itu untuk menuju baterai yang benar-benar bisa memiliki advantage di Indonesia," tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa
- 10MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri








