Akurat

Investigasi Kecelakaan Kerja di ITSS Morowali, Kemenperin: Penerapan K3 Agar Lebih Baik Lagi

M. Rahman | 25 Desember 2023, 16:34 WIB
Investigasi Kecelakaan Kerja di ITSS Morowali, Kemenperin: Penerapan K3 Agar Lebih Baik Lagi

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melakukan inspeksi dan investagasi usai kecelakaan kerja yang menewaskan 13 orang di pabrik pengolahan atau smelter nikel di PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS), yang merupakan salah satu tenant di Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif mengatakan pihaknya turut berduka cita yang mendalam bagi para keluarga korban. Diharapkan, perusahaan dapat memnuhi hak karyawan yang menjadi korban, baik yang meninggal maupun luka.

Diketahui, pasca-kecelakaan ini, para korban ditangani dengan baik.Gebri juga berharap agar perusahaan dapat kooperatif dengan tim investigasi kecelakaan kerja yang diturunkan ke lokasi dan semoga kejadian ini tidak terulang lagi.

Baca Juga: Ternyata Ini Kronologi dan Dugaan Penyebab Ledakan Tungku Smelter di Morowali

Febri memaparkan, hasil inspeksi dari tim investigasi tersebut, selain untuk mengetahui penyebab musibah di PT ITSS, juga dapat menjadi evaluasi dari perusahaan untuk lebih baik lagi dalam pengawasan dan pengendalian terkait penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

"Jadi Standard Operating Procedure (SOP) benar-benar dijalankan dengan benar, termasuk yang berkaitan dengan pekerjanya dan teknologi yang digunakan," kata Febri dikutip Senin (25/12/2023).

Bagi Kemenperin, implementasi K3 sangat krusial untuk mencegah dan menekan angka kecelakaan kerja di sektor industri. Pelaksanaan K3 harus menjadi prioritas bagi dunia usaha di Indonesia. Kemenperin mengajak dan mendorong kepada sektor industri agar budaya K3 melekat pada setiap individu di perusahaan.

Kepala Divisi Media Relations PT IMIP, Dedy Kurniawan mengemukakan, perkembangan terbaru hingga pukul 16.15 WITA, diketahui situasi di lokasi kejadian sudah terkendali. Jumlah korban meninggal yang terkonfirmasi sebanyak 13 orang, terdiri atas 9 pekerja Indonesia dan 4 pekerja asal China.

Sementara itu, sebanyak 46 korban terluka umumnya disebabkan karena terkena uap panas. Sejumlah 29 korban luka dirujuk ke RSUD Morowali, 12 orang sedang dilakukan observasi oleh Klinik IMIP, dan 5 orang rawat jalan.

Manajemen PT IMIP, disebut Dedy telah menanggung seluruh biaya perawatan dan perawatan korban pascakecelakaan, serta santunan bagi keluarga korban. Pihaknya juga telah menyerahkan 1 jenazah korban kepada keluarga korban.

Menurutnya, tungku smelter No. 41 yang terbakar, awalnya masih ditutup untuk operasi pemeliharaan. Saat tungku tersebut sedang tidak beroperasi dan dalam proses perbaikan, terdapat sisa slag atau terak dalam tungku yang keluar, lalu bersentuhan dengan barang-barang yang mudah terbakar di lokasi. Dinding tungku lalu runtuh dan sisa terak besi mengalir keluar sehingga menyebabkan kebakaran.

Akibatnya, pekerja yang berada di lokasi mengalami luka-luka hingga korban jiwa. Hasil identifikasi penyebab kecelakaan ini sekaligus menegaskan bahwa tidak ada tabung oksigen yang meledak seperti diinformasikan sebelumnya.

Saat ini, tim PT IMIP tengah berkoordinasi dengan pihak terkait, antara lain safety tenant, satuan pengamanan objek vital nasional (PAM Obvitnas) Kawasan IMIP, Polda Sulawesi Tengah, Danrem Tadulako, dan jajaran pemerintah Kecamatan Bahodopi dan Kabupaten Morowali.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa