GREAT Institute: Prabowo Berpeluang Jadi Juru Damai Korea Utara-Korea Selatan

AKURAT.CO Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa, menilai, permintaan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung kepada Presiden RI Prabowo Subianto untuk membantu menjembatani hubungan dengan Korea Utara merupakan pengakuan terhadap kredibilitas Indonesia dan kepemimpinan Prabowo di panggung diplomasi internasional.
Menurut Teguh, Indonesia memiliki modal kuat untuk berperan sebagai mediator karena sejak era Presiden Soekarno hingga kini konsisten menjaga hubungan diplomatik yang baik dengan Korea Selatan maupun Korea Utara tanpa kehilangan posisi netral.
"Permintaan tersebut sangat beralasan karena Indonesia memiliki hubungan yang sangat baik dengan kedua Korea. Indonesia juga selama ini dikenal konsisten menjaga hubungan diplomatik yang harmonis, terbuka, dan bersahabat dengan Seoul maupun Pyongyang," kata Teguh dalam keterangannya, Minggu (2/8/2026).
Penulis buku Reunifikasi Korea: Game Theory itu meyakini Prabowo memiliki peluang menjadi aktor penting dalam meredakan ketegangan di Semenanjung Korea.
Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam diplomasi perdamaian serta kepemimpinan Prabowo dapat menjadi modal untuk mendorong dialog antara kedua negara.
Teguh, yang juga Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia–RRD Korea, mengaku siap memberikan masukan kepada pemerintah untuk mendukung upaya perdamaian tersebut.
Berbekal pengalaman melakukan penelitian dan puluhan kali mengunjungi Korea Utara maupun Korea Selatan, ia menilai saat ini merupakan momentum yang tepat membuka kembali jalur dialog.
Ia menjelaskan, Presiden Lee berasal dari kubu politik progresif yang lebih terbuka terhadap pendekatan dialog dengan Korea Utara.
Pendekatan itu dinilai berbeda dengan pemerintahan konservatif sebelumnya yang lebih menitikberatkan aspek keamanan.
Meski demikian, Teguh mengingatkan kondisi hubungan kedua Korea saat ini berbeda dibandingkan periode dialog damai pada 2018–2019 antara Presiden Moon Jae-in dan Kim Jong Un.
Dinamika politik di kedua negara telah berubah sehingga membutuhkan pendekatan diplomasi yang lebih adaptif.
Teguh menjelaskan, Semenanjung Korea terpecah setelah Jepang menyerah pada Perang Dunia II.
Baca Juga: Menteri Agama: Indonesia Punya Modal Jadi Episentrum Peradaban Dunia di Era Prabowo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 3Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 4Link Live Score Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026, Cek Skor dan Susunan Pemain Sekarang!
- 5Link Live Streaming Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Nonton di Sini!
- 6Kalender Jawa 5 Oktober 2026: Watak Weton Senin Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 7Link Live Streaming Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Berapa dan Tayang di Mana?
- 8Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 9Presiden Prabowo Minta Perekrutan TNI-Polri Tidak Melulu Lihat Fisik, Boleh Berkacamata Asal Pintar
- 10Gerindra Minta Polemik Ijazah Gibran Dihentikan, Jangan Ganggu Stabilitas Politik









