Survei Kepuasan Publik Harus Jadi Bahan Evaluasi, Pemerintah Perlu Perkuat Kinerja dan Komunikasi

AKURAT.CO Hasil survei mengenai tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto seharusnya dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kinerja pemerintahan, bukan disikapi secara berlebihan.
Direktur Eksekutif Monas Syndicate, Razikin, menilai, survei merupakan salah satu instrumen untuk membaca persepsi masyarakat, namun bukan satu-satunya ukuran dalam menilai keberhasilan sebuah pemerintahan.
"Hasil survei tentu penting sebagai instrumen untuk membaca persepsi publik, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya tolok ukur dalam menilai keberhasilan pemerintahan. Yang paling penting saat ini adalah Presiden Prabowo tetap fokus bekerja untuk memastikan visi-visi besar yang telah dicanangkan dapat diwujudkan secara nyata," kata Razikin di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Razikin mengatakan ekspektasi masyarakat terhadap pemerintahan Prabowo memang sangat tinggi.
Karena itu, apabila terdapat penurunan tingkat kepuasan publik, kondisi tersebut perlu dijadikan momentum untuk mengevaluasi berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan.
Salah satu yang dinilai perlu mendapat perhatian adalah komunikasi publik pemerintah.
Menurutnya, koordinasi komunikasi antarkementerian dan lembaga masih belum terintegrasi sehingga berbagai kebijakan strategis kerap tidak tersampaikan secara utuh kepada masyarakat.
"Pemerintah sebenarnya memiliki banyak program strategis yang berpihak kepada kepentingan rakyat. Persoalannya, narasi dan komunikasi kebijakan belum sepenuhnya terintegrasi sehingga publik tidak selalu memperoleh penjelasan yang utuh mengenai tujuan, manfaat, dan capaian dari setiap kebijakan tersebut," ujarnya.
Selain komunikasi publik, Razikin juga menyoroti pentingnya penguatan koordinasi antarlembaga agar pelaksanaan program prioritas pemerintah berjalan lebih efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Terkait berkembangnya wacana reshuffle kabinet, Razikin menilai langkah tersebut sepenuhnya merupakan hak prerogatif Presiden yang didasarkan pada berbagai pertimbangan strategis.
"Presiden tentu memiliki pertimbangan yang mendalam dalam menentukan komposisi kabinet. Tidak hanya mempertimbangkan aspek kinerja, tetapi juga faktor stabilitas politik, representasi kelompok-kelompok strategis, serta kesinambungan agenda pemerintahan. Semua itu merupakan bagian dari kalkulasi kenegaraan yang harus dihormati," katanya.
Baca Juga: Survei Kepuasan Publik kepada Prabowo Turun, Dasco: Hasilnya Jadi Masukan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Menag Pimpin Salat Jenazah, Rano Karno Sampaikan Pesan Keluarga untuk Guruh Soekarnoputra
- 10Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla





