PSI Terlalu Sibuk dengan Gimik, Minim Ideologi dan Program untuk Publik

AKURAT.CO Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai terlalu sibuk dengan berbagai gimik dan misteri politik yang tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pengamat Politik Citra Institute, Efriza, menilai, partai politik seharusnya hadir dengan ideologi dan program kerja yang jelas, bukan sekadar pencitraan.
“PSI ini menjadi partai dengan misteri-misterinya sendiri. Tapi misteri itu bukan hal yang baik bagi sebuah partai. Karena partai itu bukan tempat untuk bermain misteri, melainkan wadah ideologi, program kerja, dan sarana menyuarakan kepentingan rakyat,” ujar Efriza saat ditemui di Gedung DPR/MPR RI, Selasa (14/10/2025).
Menurutnya, lemahnya basis dukungan di akar rumput menjadi penyebab PSI lebih dikenal lewat gimik dibandingkan kerja politik substansial. Ia juga menilai PSI belum menunjukkan arah ideologi yang tegas.
“Ideologinya tidak jelas, hanya mengikuti Pak Jokowi sebagai ikon,” tegasnya.
Efriza menambahkan, absennya PSI di parlemen juga membuat partai tersebut berusaha mencari perhatian publik lewat berbagai manuver simbolik. Namun, langkah itu dinilainya tidak dibarengi dengan kemampuan komunikasi politik yang baik.
Baca Juga: Empat Saksi Mangkir dari Pemeriksaan KPK Terkait Kasus Korupsi Digitalisasi SPBU Pertamina
“Sekarang PSI bisa dikatakan sebagai partai yang hampir sepenuhnya bergantung pada figur Pak Jokowi. Padahal partai semestinya berdiri dengan gagasan dan ideologinya sendiri,” ujarnya.
Ia juga menyoroti cepatnya proses pengesahan kepengurusan baru PSI, yang dinilai menimbulkan pertanyaan publik.
“Kemarin kita lihat, begitu cepat kepengurusan PSI disahkan, hanya satu hari. Tapi mengapa tidak dijelaskan secara terbuka kepada publik?” tuturnya.
Lebih lanjut, Efriza menilai PSI hingga kini belum menawarkan program konkret yang dapat dirasakan masyarakat.
PSI dinilainya masih memanfaatkan popularitas Jokowi tanpa benar-benar membawa gagasan dari kebijakan dan pemikiran terbaik mantan presiden tersebut.
“Isu yang mereka angkat masih bersifat personal, lebih pada citra partai, bukan pada program nyata untuk publik,” jelasnya.
“Sayang sekali, kalau ikon Pak Jokowi hanya dijadikan tempelan nama tanpa mengambil pemikiran terbaik dari beliau, padahal selama masa pemerintahannya, banyak gagasan baik yang bisa dijadikan inspirasi,” pungkas Efriza.
Baca Juga: BGN Kembalikan Rp70 Triliun ke Negara, Siapkan Rp335 Triliun untuk Program Makan Bergizi Gratis 2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 4Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang







