Pesan Moral Akademisi untuk Presiden Jokowi Mirip Era Soekarno dan Soeharto
Dwana Muhfaqdilla | 8 Februari 2024, 23:01 WIB

AKURAT.CO Jelang Pemilu 2024, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) diterpa gelombang kritikan dari civitas akademika.
Melihat hal ini, pengamat politik, Selamat Ginting, mengungkapkan, sikap keprihatinan kalangan akademisi terhadap Presiden Jokowi, mirip dengan era Presiden Soekarno pada 1966 dan Presiden Soeharto pada 1998.
“Sikap keprihatinan kaum akademisi terhadap Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto, ujungnya adalah lengsernya kedua presiden tersebut secara mengenaskan,” katanya kepada Akurat.co, Kamis (8/2/2024).
Menurutnya, sikap keprihatinan kaum akademisi terhadap Presiden Jokowi merupakan koreksi total sekaligus bentuk kepedulian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjelang Pemilu 2024.
“Alasan kaum akademisi, karena pemerintahan Presiden Jokowi dinilai telah menyelewengkan kekuasaan, hukum dan demokrasi di Indonesia menjelang pelaksanaan Pemilu 2024,” ungkapnya.
Dosen FISIP Universitas Nasional ini mengatakan peristiwa ini kemudian menjelaskan kemiripan peristiwa ini dengan era menjelang jatuhnya Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto.
Baca Juga: Daftar Pemain dan Sinopsis Film Ali Topan, Dibintangi Jefri Nichol Akan Tayang Februari 2024
“Saat itu kaum akademisi juga melakukan sikap keprihatinan, karena Sukarno dan Soeharto dianggap tidak sesuai lagi dengan Pancasila dan UUD 1945,” tambahnya.
Saat itu, muncul gerakan pembaharuan pada 1966, karena Presiden Soekarno dianggap tidak menjalankan Pancasila secara murni dan konsekuen. Sikap keprihatinan para akademisi itu kemudian diikuti dengan aksi demonstrasi mahasiswa, pemuda, pelajar, dan sejumlah komponen bangsa terhadap Presiden Soekarno.
“Aksi demonstrasi yang berkepanjangan itu membuat jalannya pemerintahan menjadi terganggu. Istana menjadi sasaran aksi demonstrasi, sehingga rapat-rapat kabinet tidak bisa dilaksanakan secara baik,” tuturnya.
Kondisi tersebut merupakan salah satu dampak dari peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965 dan pada akhirnya pertanggungjawaban Presiden Soekarno ditolak MPRS pada Maret 1967. Hal ini menandai jatuhnya kekuasaan Presiden Sukarno.
“Akhirnya, rezim demokrasi terpimpin atau Orde Lama Soekarno digantikan Orde Baru yang dipimpin Jenderal Soeharto. Awal pemerintahannya, Soeharto berjanji akan menjalankan Pancasila secara murni dan konsekuen. Namun akhirnya malah menjadi pemerintahan otoritarian dan mengesampingkan demokrasi, hingga tudingan melakukan praktik KKN,” jelasnya.
Selamat menjelaskan, hal serupa terjadi pula pada 1998 menjelang lengsernya Soeharto.
“Sikap keprihatinan dan koreksi total kalangan akademisi diikuti aksi demonstrasi mahasiswa berhari-hari yang akhirnya menguasai Gedung DPR/MPR dan sejumlah menteri menyatakan mundur tidak bisa lagi berada dalam kabinet Presiden Soeharto,” jelasnya.
Sama halnya dengan Soekarno, Soeharto juga gagal membentuk kabinet baru di akhir kekuasaannya.
“Sehingga Soeharto menyatakan mundur sebagai presiden dan digantikan Wakil Presiden BJ Habibie, sekaligus mengawali era reformasi 1998,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









